INDUSTRY.co.id - Cikarang — Dunia industri mulai mengandalkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan drone untuk memperkuat pemantauan lingkungan sekaligus mendukung pelaporan keberlanjutan.

Inisiatif tersebut dikembangkan melalui kolaborasi President University, University of Southern Queensland (UniSQ), dan Jababeka, dengan dukungan hibah kerja sama Indonesia-Australia sekitar AUD 42.000 dari Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT).
 
Program yang berlangsung pada Juli-September 2026 ini mempertemukan perguruan tinggi, teknologi, dan dunia industri untuk mendorong pengelolaan lingkungan berbasis data.
 
Pemanfaatan drone memungkinkan industri memperoleh data lingkungan dari wilayah yang lebih luas dan sulit dijangkau.
 
Drone berukuran kecil dapat dilengkapi sensor gas dan partikulat untuk mengambil sampel udara di berbagai lokasi dan ketinggian dalam waktu relatif singkat. Data tersebut dapat digunakan untuk memantau emisi, sebaran polutan, kualitas udara, hingga perubahan kondisi lingkungan.
 
Data yang dikumpulkan kemudian dapat dianalisis menggunakan AI untuk menemukan pola dan perubahan kondisi lingkungan secara lebih sistematis.
 
Berbeda dengan stasiun pemantauan tetap yang hanya membaca kondisi pada satu titik, drone dapat bergerak melintasi sejumlah lokasi dan ketinggian. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memperoleh gambaran kondisi lingkungan yang lebih luas sebagai dasar pengambilan keputusan.
 
Prof. Zahra Gharineiat dari UniSQ mengatakan, data lingkungan yang dapat diukur dan dilakukan secara berulang membuat kondisi lingkungan tidak lagi sekadar menjadi asumsi.
 
“Data yang terukur dan dapat dilakukan secara berulang mengubah anggapan bahwa kualitas udara baik menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.
 
Kebutuhan terhadap data lingkungan yang akurat juga semakin penting seiring perkembangan standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia.
 
President University menggelar workshop bagi pelaku industri pada 3 September 2026 untuk membahas perkembangan pelaporan keberlanjutan serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan.
 
Workshop tersebut antara lain membahas PSPK 1 dan PSPK 2, standar pengungkapan keberlanjutan di Indonesia yang mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2.
 
Prof. Syed Shams dari UniSQ menekankan pentingnya informasi lingkungan dan keberlanjutan yang transparan serta kredibel bagi perusahaan.
 
Menurut dia, penelitian sebelumnya menunjukkan adanya keterkaitan antara pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel dengan nilai perusahaan, biaya pendanaan, serta ekspektasi terhadap kinerja masa depan.
 
Di sisi regulasi, workshop juga membahas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2026.
 
Istringani, Kepala Kepatuhan Regulasi Kawasan (ERC) sekaligus Manajer Senior Bidang Air dan Lingkungan PT Jababeka Infrastruktur, menyoroti pentingnya penerapan regulasi lingkungan dalam kegiatan operasional industri.
 
Sementara itu, Ketua Program Studi Akuntansi President University, Dr. Supeni Mapuasari mengatakan, perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi keuangan perusahaan.
 
Risiko tersebut dapat berkaitan dengan operasional, aset, investasi, hingga arus kas perusahaan.
 
Karena itu, data lingkungan yang terukur diperlukan agar perusahaan dapat memahami risiko dan menghubungkannya dengan proses pengambilan keputusan serta pelaporan keberlanjutan.
 
Kolaborasi ini juga menyasar dunia pendidikan. International Young Essay Competition diikuti lebih dari 200 tim dari 14 negara, sebelum dilanjutkan dengan workshop dan pengumuman pemenang pada 4 September 2026.
 
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perkembangan teknologi dan praktik keberlanjutan yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
 
Kolaborasi President University, UniSQ, dan Jababeka pada akhirnya mempertemukan akademisi, teknologi, dan kebutuhan industri dalam satu ekosistem.
 
Pemanfaatan AI dan drone diharapkan dapat membantu perusahaan memperoleh data lingkungan yang lebih luas dan terukur untuk mendukung pengelolaan risiko, pengambilan keputusan, kepatuhan, serta pelaporan keberlanjutan.