Highlights
  • Jababeka Infrastruktur mencapai predikat kawasan industri terbaik melalui pembangunan infrastruktur tangguh, hubungan baik dengan tenant, dan program keberlanjutan di pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan.
  • Program sosial Jababeka meliputi GETAS untuk mengatasi stunting dan Cipadu untuk memperkuat Posyandu di sekitar kawasan industri.
  • Di pilar ekonomi, Jababeka memiliki JClass untuk pelatihan kompetensi SMK dan Beasiswa Disabilitas Siap Kerja.
  • Jababeka juga aktif di pilar lingkungan dengan program Bank Sampah dan penanaman mangrove melalui Jababeka Ecoweek.
  • Keberhasilan program keberlanjutan Jababeka didorong oleh kolaborasi aktif dengan tenant, masyarakat, dan pemerintah.

INDUSTRY.co.id - Cikarang – Menjadi kawasan industri terbaik bukan sekadar soal luas lahan atau jumlah tenant yang bernaung di dalamnya. Bagi PT Jababeka Infrastruktur, anak usaha PT Jababeka Tbk (KIJA), predikat itu lahir dari cara perusahaan hadir secara utuh, baik bagi tenant yang berinvestasi maupun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Selama lebih dari tiga dekade, Jababeka tidak hanya membangun infrastruktur yang tangguh, tetapi juga merawat hubungan dengan tenant dan menjalankan program keberlanjutan di tiga pilar sekaligus, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan.

"Kawasan industri yang baik bukan hanya soal infrastruktur yang tangguh, tetapi juga soal bagaimana kami hadir dan memberi dampak nyata bagi tenant dan masyarakat sekitar," ujar Didik Purbadi, Direktur Utama PT Jababeka Infrastruktur di Jakarta, Rabu (15/07/2026).

Sebagai pengelola kawasan, Jababeka memilih untuk tidak berhenti di peran fasilitator. Perusahaan turun langsung mengimplementasikan program di lapangan, mulai dari menyusun agenda tahunan, mensosialisasikannya kepada seluruh tenant, hingga membangun komunikasi yang dekat agar tenant tergerak untuk ikut ambil bagian. Pendekatan ini membuat Jababeka memahami betul bagaimana setiap program berjalan, sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

Hasilnya terlihat dari konsistensi program yang terus berjalan dari tahun ke tahun dan semakin luasnya keterlibatan tenant di dalamnya, tercermin dari rangkaian inisiatif Jababeka di tiga pilar berikut.

Pilar Sosial: GETAS dan Cipadu

Di pilar sosial, Jababeka menghadirkan GETAS (Gerakan Sehat Atasi Stunting) sebagai wujud dukungan terhadap visi Generasi Emas 2045. Pada 2024, program ini berhasil menekan jumlah balita stunting dari 969 menjadi 571 anak, atau penurunan 40% dari total penerima manfaat. Penurunan tersebut diukur melalui tiga indikator utama, yaitu peningkatan gizi, peningkatan berat badan dan tinggi badan secara signifikan, serta peningkatan yang belum signifikan.

Tahun ini, Jababeka menargetkan capaian serupa lewat penyaluran 500 paket bantuan PMT berupa telur, vitamin, dan poster pemantauan tumbuh kembang, yang dimonitor rutin bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dan Puskesmas.

Jababeka juga menggandeng President University untuk memberikan penyuluhan gizi kepada calon orang tua, ibu hamil, dan ibu dengan anak usia dua tahun, serta menyalurkan bantuan air bersih bagi wilayah dengan sanitasi buruk.

Program ini dilengkapi oleh Cipadu (Cinta Posyandu), yang memperkuat jaringan Posyandu di sekitar kawasan industri Jababeka dan menyasar kelompok rentan secara menyeluruh, mencakup 4.256 bayi dan balita, 398 ibu hamil, serta 159 lansia. Cipadu mencakup pemberian makanan tambahan dan vitamin, penyuluhan pola makan sehat dan pencegahan stunting, pelatihan bagi kader posyandu agar lebih terampil, hingga bantuan sarana dan alat kesehatan seperti alat ukur berat badan dan timbangan bayi, sehingga layanan kesehatan di tingkat komunitas dapat berjalan lebih mandiri dan berkelanjutan.

Pilar Ekonomi: JClass dan Beasiswa Disabilitas Siap Kerja

Di pilar ekonomi, Jababeka Community Acceleration Class (JClass) hadir sebagai program pelatihan peningkatan kompetensi bagi siswa-siswi SMK di Cikarang, menjembatani dunia pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri di kawasan. Saat ini, JClass telah menjangkau 21 tenant dan memberikan pelatihan langsung ke 15 SMK, dengan rencana perluasan jangkauan ke lebih banyak sekolah ke depannya.

Selain itu, Jababeka juga menginisiasi Beasiswa Disabilitas Siap Kerja, yaitu Program Beasiswa Pelatihan dan Sertifikasi Administrasi Perkantoran bagi penyandang disabilitas, yang dirancang mengacu pada SDGs Indikator 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

"Melalui program ini, kami tidak hanya memberi kesempatan, tetapi juga memberdayakan mereka untuk menjadi tenaga kerja yang kompetitif dan mandiri,"

— Didik Purbadi, Direktur Utama PT Jababeka Infrastruktur

"Melalui program ini, kami tidak hanya memberi kesempatan, tetapi juga memberdayakan mereka untuk menjadi tenaga kerja yang kompetitif dan mandiri," ujar Didik. Program ini diharapkan dapat meningkatkan peluang para penyandang disabilitas untuk bergabung ke dunia kerja, khususnya di kawasan Jababeka, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Pilar Lingkungan: Bank Sampah dan Jababeka Ecoweek

Sementara itu, di pilar lingkungan, Jababeka menjalankan pembinaan Bank Sampah yang mencakup 4 Bank Sampah Unit, yaitu Bank Sampah Dahlia, Bank Sampah Senyum Bumiku, Bank Sampah Venus, dan Bank Sampah Mekarwangi, serta 1 Bank Sampah Induk, yaitu PDU (Pusat Daur Ulang) Mekarmukti. Warga yang terdaftar sebagai anggota mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga, lalu menyetorkannya untuk ditimbang dan dinilai, dengan nilai tersebut dicatat sebagai saldo tabungan mereka, sehingga program ini memberikan dampak lingkungan berupa pengurangan volume sampah sekaligus dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Jababeka juga menjalankan Jababeka Ecoweek, yaitu program penanaman mangrove di Muaragembong dengan target hingga 100.000 pohon, sebagai komitmen jangka panjang untuk memulihkan ekosistem pesisir yang rentan terhadap abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut di wilayah Kabupaten Bekasi.

Keberhasilan Jababeka membangun kawasan industri yang berkelanjutan tidak lepas dari peran aktif dan sinergi seluruh elemen masyarakat yang menjadi mitra utama perusahaan dalam menghidupkan program di lapangan, termasuk para tenant di Kawasan Industri Jababeka yang turut ambil bagian dalam berbagai program di atas.

"Dampak sejati dari sebuah program keberlanjutan adalah kolaborasi yang konsisten dan tersalurnya manfaat nyata bagi masyarakat luas," tegas Didik. Ke depan, Jababeka akan terus berkomitmen untuk berinovasi dalam program keberlanjutan, serta senantiasa bersinergi dengan tenant dan pemerintah demi kemajuan Kabupaten Bekasi.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa itu Kawasan Industri Jababeka?

[Jawaban Langsung]: Kawasan Industri Jababeka adalah kawasan eko-industri modern pertama di Indonesia yang dikembangkan oleh PT Jababeka Tbk. Terletak di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kawasan ini memiliki luas lebih dari 5.600 hektar dan menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 perusahaan lokal dan multinasional dari 30 negara.

Apa saja pilar keberlanjutan yang dijalankan Jababeka?

[Jawaban Langsung]: Jababeka menjalankan program keberlanjutan di tiga pilar utama: sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di pilar sosial, ada program seperti GETAS untuk mengatasi stunting dan Cipadu untuk memperkuat Posyandu. Pilar ekonomi mencakup JClass untuk pelatihan SMK dan Beasiswa Disabilitas Siap Kerja. Sementara pilar lingkungan meliputi pembinaan Bank Sampah dan program penanaman mangrove Jababeka Ecoweek.

Bagaimana Jababeka mengatasi dampak lingkungan dari aktivitas industri?

[Jawaban Langsung]: Jababeka mengadopsi konsep industri berkelanjutan dengan fokus pada zero waste, produksi bersih, dan produktivitas hijau. Mereka memiliki program Bank Sampah untuk mengurangi volume sampah dan Jababeka Ecoweek untuk penanaman mangrove guna memulihkan ekosistem pesisir. Selain itu, mereka juga mendorong inisiatif seperti water circularity, material and energy circularity, dan low carbon public transport.

Apa dampak positif Kawasan Industri Jababeka bagi masyarakat sekitar?

[Jawaban Langsung]: Keberadaan Kawasan Industri Jababeka memberikan dampak positif seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta program pemberdayaan melalui pelatihan kompetensi dan beasiswa. Selain itu, program sosial seperti GETAS dan Cipadu juga berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.