INDUSTRY.co.id - Jakarta – Data Pangan dengan metode baru yang diluncurkan Badan Pusat Statistik (BPS) telah menempatkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai pesakitan. Karena Kementan selalu menyodorkan data proyeksi produksi beras, selama BPS melakukan penyempurnaan dengan metode KSA hingga puasa merilis data sejak 2015 lalu.
Setelah rampung dan diumumkan langsung oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK), Kementan menyatakan siap memakai data pangan baru BPS. Hal ini sesuai arahan Presiden Jokowi agar semua instansi mengacu pada data pangan BPS.
"Satu-satunya sumber data yang jadi referensi itu BPS. Jadi dengan adanya perubahan ini kami mengacu ke BPS," tutur Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementan, Syukur Iwantoro saat memaparkan pencapaian empat tahun Jokowi-JK di Gedung Kementan, Rabu (24/10/2018) kemarin.
Syukur menekankan, Kementan ke depan hanya berfokus menjaga ketersediaan beras. Terutama bagaimana menciptakan kecukupan pangan di masyarakat.
"Kementan fokus menanam supaya menuju kecukupan pangan untuk populasi yang terus meningkat terpenuhi. Jangan dianggap remeh, peningkatan populasi kita itu dua kalinya Singapura. Dan populasi ini akan naik terus, kami harus penuhi kebutuhan," jelasnya.
Syukur mengungkapkan, untuk tahun ini Kementan mengalokasikan 85 persen dari total anggaran sebesar Rp 22,65 triliun guna memenuhi kebutuhan petani untuk peningkatan produksi seperti belanja sarana dan prasarana pertanian.
Mengenai data pangan yang selama ini dirilis Kementan, pengamat ekonomi politik pertanian Prima Gandhi mengingatkan, semua data itu bersumber dari BPS dengan metode eyes estimate. Sedangkan data terbaru yang dirilis juga dari BPS dengan Metode KSA.
“Sejak zaman orde baru sampai sekarang data pangan satu pintu di BPS. Kementan tidak mengolah data pangan”, ujar Gandhi yang juga dosen Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), di Bogor, Rabu (24/10/2018) kemarin.
Sejak 2016 sampai akhirnya muncul data dengan metode baru, BPS tetap mendata, mengolah, namun tidak merilis data pangan karena menunggu perbaikan data dengan KSA.
“Data BPS metode eyes estimate itulah yang dirilis Kementan dan disajikan. Jadi data yg dimiliki dan ada di laman Kementan itu 100 persen adalah data bersumber BPS. Tapi BPS rilis untuk intern”, terang Gandhi.