INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) optimistis penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baru meningkat sekitar 33% tahun ini dari realisasikan pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai total Rp31,86 triliun.
Direktur Utama BBTN, Maryono mengatakan peningkatan tersebut akan dicapai mengingat berbagai peluang dan kondisi yang mendukung sektor properti.
Berbagai kebijakan yang mendukung ini tentu tidak hanya bermanfaat bagi sektor properti saja. Sebab, ada sekitar 170 lebih sektor lain yang terkait dengan sektor properti," kata Mariyono di Jakarta, Sabtu (11/2/2017).
Untuk kebutuhan rumah misalnya, dari data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), angka backlog perumahan secara kumulatif mencapai 15 juta unit.
Setiap tahunnya, Kementerian PUPR pun mencatat masih ada kekurangan pasokan rumah sebanyak 400 ribu unit. Adapun pemerintah tahun ini mengalokasikan anggaran untuk membiayai perumahan yang lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Pada 2017, pemerintah mengalokasikan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) senilai Rp9,7 triliun, Susbsidi Selisih Bunga (SSB) sekitar Rp3,7 triliun, dan bantuan uang muka sebesar Rp2,2 triliun.
"Nilai tersebut melebihi anggaran FLPP 2016 senilai Rp9,22 triliun dan SSB sebesar Rp2,2 triliun," ungkapnya.
Kebijakan lain yang mendukung yakni relaksasi loan to value (LTV) oleh bank sentral.
Pada pertengahan 2015, Bank Indonesia mewajibkan pembayaran uang muka untuk KPR pertama 20%, KPR kedua 30%, serta KPR ketiga dan selanjutnya 40%. Namun, jelang akhir tahun lalu, aturan ini diperlonggar sehingga uang muka untuk KPR pertama menjadi 15%, KPR kedua 20%, dan KPR ketiga serta seterusnya 25%.