INDUSTRY.co.id - Jakarta – Dasuki Amir, Direktur PT BanK Tabungan Negara Tbk (BBTN), mengemukakan, sektor perumahan, yang saat ini paling tahan terhadap krisis adalah untuk segmen menenah ke bawah. Bahkan dapat menjadi motor penggerak bagi kebangkitan ekonomi.
“Sektor-sektor bisnis yang biasanya terkena imbas gejolak krisis global adalah yang terkait dengan sektor ekspor-impor karena bergantung pada nilai kurs dolar AS. Tetapi, untuk sektor perumahan tidak berimbas, karena hampir semua komponen terkait pembangunan perumahan umumnya berasal dari industri lokal dan transaksinya menggunakan rupiah,” ujar Dasuki di Jakarta, Selasa (21/08/2018).
Dasuki mengemukakan, sektor perumahan masih kuat dan minim terdampak ekonomi global karena hampir seluruh elemen untuk pembangunan masih menggunakan hasil lokal.
Dasuki juga mengungkapkan, Indonesia sudah pernah mengalami krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1998 dan 2008. Pada masa krisis seperti itu, sektor perumahan khususnya menengah bawah tetap jalan dan menjadi motor penggerak pembangkit perekonomian.
“Itu karena pebangunan perumahan itu terkait langsung dengan lebih dari 117 industri. Pembangunan perumahan bergerak, maka 117 industri terkait dari hulu ke hilir juga akan bergerak dan ini berujung pada ekonomi nasional,” tambah Dasuki.
Menurut Dasuki, karena fokus bisnis Bank BTN pada pembiayaan sektor perumahan dan industri turutannya, maka krisis global yang terjadi saat ini tidak secara signifikan berimbas pada bisnis perseroan.
“Kalau rumah subsidi tidak ada konten dari luar karena hampir semuanya lokal, jadi demand tetap kuat artinya Bank BTN tidak terlalu pengaruh asal kita fokus pada bisnis perumahan,” jelas Dasuki.
Dasuki menjelaskan, dengan fokus pada bisnis perumahan, membuat kinerja keuangan BTN dalam lima tahun terakhir selalu positif. Tak mengherankan jika Bank BTN mendapatkan penghargaan Platinum Award dalam ajang Infobank Award 2018 di Yogyakarta pada 15 Agustus lalu. Dalam ajang Infobank Award 2018 tersebut, Bank BTN meraih penghargaan Platinum Award atau Bank berkinerja sangat baik selama sepuluh tahun berturut-turut.
“Kami berharap penghargaan ini dapat memacu seluruh pegawai BTN untuk bekerja lebih giat lagi agar kinerja perusahaan semakin bagus,” papar Dasuki.
Per Juni 2018, demikian Dasuki, dengan asset Bank BTN yang sebesar Rp268 triliun, maka jumlah tersebut telah naik 104% dibandingkan total aset pada tahun 2013 yang hanya Rp131 triliun.
Untuk penyaluran kredit juga sudah naik lebih dari 100% dari Rp100 triliun pada 2013 menjadi Rp211 triliun pada semester I/2018. Sedangkan untuk total dana pihak ketiga (DPK) juga melonjak signifikan dari Rp96 triliun pada 2013, kini pada akhir Juni 2018 angkanya sudah mencapai Rp189 triliun.
“Setiap tahunnya pertumbuhan bisnis BTN selalu di atas rata-rata industri. Maka wajar kita mendapatkan penghargaan bank yang berkinerja terbaik dalam sepuluh tahun terakhir tersebut,” pungkas Dasuki. (Abraham Sihombing)