INDUSTRY.co.id - Tangerang - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan dukunganya terhadap kebijakan pengembangan industri kendaraan elektrifikasi yang telah dicanangkan pemerintah meskipun perlu dilakukan secara bertahap.
"Untuk tahap awal sebaiknya dikembangkan konsep mobil hybrid, mengingat membutuhkan infrastruktur tambahan," kata Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi di Tangerang, Kamis (9/8/2018).
Sedangkan, menurut Nangoi, produk Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu, saat ini banyak agen pemegang merek (APM) telah memasarkan produk-produk hybrid.
"Sejalan dengan penerapan kebijakan tersebut, biar nantinya konsumen yang menentukan produk mobil elektrifikasi yang akan mereka pilih. Yang harus disiapkan adalah infrastrukturnya untuk mendukung kehadiran produk electrified vehicle itu, ketika harga bahan bakar minyak sudah tinggi dan infratrsuktur memadai, masyarakat pasti akan beralih memakai produk tersebut," lanjutnya.
Sementara itu, Dirjen ILMATE Kemenperin Harjanto mengatakan, untuk jangka pendek pihaknya cenderung mengembangkan teknologi PHEV. Meski infrastrukturnya belum terbangun, PHEV lebih efisien hemat energi dan ramah lingkungan.
"Pengembangan kendaraan elektrifikasi (electrified vehicle) memang butuh tahapan-tahapan. Terkait dengan efisiensi maka kebijakan ini tidak bisa dilepaskan dari konsep energy security. Kami inginnya full efficiency sehingga untuk tahap awal cenderung dikembangkan ke Hybrid Plug-In Electriv Vehicle," ujarnya.
Harjanto menambahkan, selain bisa menghemat energi hingga 82%, PHEV juga menjadi kendaraan yang ramah lingkungan karena mampu menurunkan kadar C02 yang signifikan seiring pemerintah menyiapkan infrastrukturnya secara bertahap.
"Selain itu melihat dari kondisi pasarnya, marketnya juga belum terlampau besar atau masih animo saja sehingga dibutuhkan infrastruktur pendukungnya, baik untuk industrinya maupun bagi penggunanya," tutur Harjanto.