INDUSTRY.co.id - Beijing, Dalam rangka memenuhi kebutuhan produksi garam nasional yang selama ini masih sangat bergantung dengan impor, Duta Besar Indonesia untuk RRT, HE Djauhari Oratmangun, melakukan penjajakan kerja sama PT Garam (persero) ke perusahaan garam terbesar di Tiongkok, China Salt Industry Corporation. 

Advertisement

Hadir dalam penjajakan bisnis tersebut Prof. Eniya Listiani Dewi, Komisaris PT GARAM, Deputi untuk Informasi, Energi, dan teknologi Kimia di BPPT di dampingi Direktur Farmasi dan Medika, BPPT, Imam Paryanto.

PT GARAM merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi garam di Indonesia, dengan kapasitas produksi 350 ribu ton/tahun. Usaha dan produksi garam tidak terlalu besar karena bergantung iklim dan dihasilkan secara on-farm. Kualitas dan kuantitasnya belum terlalu banyak. 

Advertisement

Sementara itu kebutuhan garam di Indonesia 4.5 juta ton/tahun, selain PT GARAM, penghasil GARAM adalah petani garam dengan total lahan 25 ribu hektar (5000 hektar milik PT GARAM). 

Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang ada hanya 2.3 juta ton/tahun, sisanya masih impor. Target PT GARAM tahun 2021 mau memenuhi 50% demand dalam negeri. 

Advertisement

Kunjungan tersebut untuk mengetahui cara memproduksi garam dalam jumlah yang banyak dan kualitas yang baik , dimana CNSIC memproduksi 18 juta ton/tahun dan sebagian besar merupakan garam sumur (tambang garam), sehingga produksinya tidak bergantung pada musim. 

"Kami akan ikut mendorong kerja sama PT GARAM dengan CNSIC, termasuk kemungkinan berinvestasi dan berproduksi agar Indonesia mengurangi impor, malah mungkin ekspor," ungkap Djauhari di Beijing, China (7/8/2018).

Advertisement