INDUSTRY.co.id - Jakarta- Deputi Direktur & Fellow Program Asia Tenggara Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Washington DC Brian Harding berpendapat bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) perlu memberi sinyal untuk menunjukkan pentingnya hubungan kedua negara.
"Saya rasa Presiden Jokowi harus berkunjung ke Gedung Putih, begitu pula Presiden Trump ke Jakarta untuk menunjukkan sinyal bahwa hubungan kedua negara masih sangat penting bagi satu sama lain," kata Brian usai mengisi sebuah diskusi di Kantor CSIS Jakarta, Kamis.
Rencana kunjungan kedua pemimpin negara diharapkan dapat diumumkan dalam kunjungan Menteri Luar Negeri AS Michael (Mike) Richard Pompeo ke Jakarta pada akhir pekan ini, di mana ia akan melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu RI Retno Marsudi dan Presiden Joko Widodo.
Hubungan Indonesia-AS saat ini dinilai tidak sekuat pada masa pemerintahan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan mitranya Barack Obama, yang menginisiasi Kemitraan Strategis AS-Indonesia yang melingkupi berbagai grup kerja sama mulai dari bidang energi, pendidikan, demokrasi dan masyarakat sipil, keamanan, hingga lingkungan.
Kemitraan yang dibentuk pada 2010 ini dianggap Brian Harding sebagai formula yang baik untuk menjaga hubungan Indonesia-AS selain pertukaran ide dan diskusi antarpemerintah maupun kalangan nonpemerintah kedua negara.
"Saya rasa hubungan AS dan Indonesia akan terjaga baik dalam 2,5 tahun ke depan (sisa masa pemerintahan Trump). Kabar baiknya saya rasa Washington paham bahwa mereka harus lebih menaruh perhatian pada Indonesia," ujar Brian.
Dalam konteks ASEAN, Brian berpendapat kehadiran Menlu Pompeo dalam Pertemuan ke-51 para Menlu ASEAN di Singapura hari ini menunjukkan bahwa AS memperhatikan perkembangan di ASEAN, terlebih untuk strategi Indo-Pasifik bebas terbuka yang dipromosikan AS.
"AS tahu bahwa ASEAN itu penting dan harus menjadi pusat dari strategi Indo-Pasifik yang sangat penting bagi kepentingan AS di kawasan ini," tutur mantan direktur untuk urusan keamanan Asia dan Pasifik di Kantor Menteri Pertahanan AS di Pentagon.
Dilaporkan oleh Reuters, Senin (30/7), Menlu Pompeo baru saja mengumumkan dana senilai 113 juta dolar AS terkait dengan pembangunan strategi Indo-Pasifik.
Strategi itu digagas Presiden AS Donald Trump dalam bentuk penanaman modal baru kawasan di bidang teknologi, energi dan prasarana.
"Dana ini hanya uang muka atas masa baru dalam komitmen ekonomi AS kepada perdamaian dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik," kata Pompeo dalam pidato di hadapan anggota Kamar Dagang dan Industri AS.
Pompeo mengatakan dirinya akan mengunjungi Malaysia, Singapura dan Indonesia pekan ini, di mana dia akan mengumumkan bantuan keamanan baru di kawasan ini.
Jakarta- Deputi Direktur & Fellow Program Asia Tenggara Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Washington DC Brian Harding berpendapat bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) perlu memberi sinyal untuk menunjukkan pentingnya hubungan kedua negara.
"Saya rasa Presiden Jokowi harus berkunjung ke Gedung Putih, begitu pula Presiden Trump ke Jakarta untuk menunjukkan sinyal bahwa hubungan kedua negara masih sangat penting bagi satu sama lain," kata Brian usai mengisi sebuah diskusi di Kantor CSIS Jakarta, Kamis (2/8/2-018)
Rencana kunjungan kedua pemimpin negara diharapkan dapat diumumkan dalam kunjungan Menteri Luar Negeri AS Michael (Mike) Richard Pompeo ke Jakarta pada akhir pekan ini, di mana ia akan melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu RI Retno Marsudi dan Presiden Joko Widodo.
Hubungan Indonesia-AS saat ini dinilai tidak sekuat pada masa pemerintahan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan mitranya Barack Obama, yang menginisiasi Kemitraan Strategis AS-Indonesia yang melingkupi berbagai grup kerja sama mulai dari bidang energi, pendidikan, demokrasi dan masyarakat sipil, keamanan, hingga lingkungan.
Kemitraan yang dibentuk pada 2010 ini dianggap Brian Harding sebagai formula yang baik untuk menjaga hubungan Indonesia-AS selain pertukaran ide dan diskusi antarpemerintah maupun kalangan nonpemerintah kedua negara.
"Saya rasa hubungan AS dan Indonesia akan terjaga baik dalam 2,5 tahun ke depan (sisa masa pemerintahan Trump). Kabar baiknya saya rasa Washington paham bahwa mereka harus lebih menaruh perhatian pada Indonesia," ujar Brian.(Ant)
Dalam konteks ASEAN, Brian berpendapat kehadiran Menlu Pompeo dalam Pertemuan ke-51 para Menlu ASEAN di Singapura hari ini menunjukkan bahwa AS memperhatikan perkembangan di ASEAN, terlebih untuk strategi Indo-Pasifik bebas terbuka yang dipromosikan AS.
"AS tahu bahwa ASEAN itu penting dan harus menjadi pusat dari strategi Indo-Pasifik yang sangat penting bagi kepentingan AS di kawasan ini," tutur mantan direktur untuk urusan keamanan Asia dan Pasifik di Kantor Menteri Pertahanan AS di Pentagon.
Dilaporkan oleh Reuters, Senin (30/7), Menlu Pompeo baru saja mengumumkan dana senilai 113 juta dolar AS terkait dengan pembangunan strategi Indo-Pasifik.
Strategi itu digagas Presiden AS Donald Trump dalam bentuk penanaman modal baru kawasan di bidang teknologi, energi dan prasarana.
"Dana ini hanya uang muka atas masa baru dalam komitmen ekonomi AS kepada perdamaian dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik," kata Pompeo dalam pidato di hadapan anggota Kamar Dagang dan Industri AS.
Pompeo mengatakan dirinya akan mengunjungi Malaysia, Singapura dan Indonesia pekan ini, di mana dia akan mengumumkan bantuan keamanan baru di kawasan ini. (Ant)