INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk meraih laba bersih Rp14,93 triliun sepanjang semester I-2018 atau naik 11 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan memanfaatkan pendapatan dari mulai menggeliatnya pertumbuhan kredit.
Direktur Utama Bank BRI Suprajarto di Jakarta, Selasa (31/7/2018, merinci intermediasi BRI atau penyaluran kredit sebesar Rp794,3 triliun atau naik 15,5 persen (yoy) dibanding periode sama tahun lalu.
Penyaluran kredit itu menyumbang pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp 38,24 triliun. Angka itu sebenarnya tidak tumbuh signifikan, karena di periode sama tahun lalu, NII BRI sebesar Rp 35,91 triliun.
Sementara itu, marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) BRI, jika merujuk laporan keuangan perseroan, yakni sebesar 7,64 persen, turun dibanding periode sama tahun lalu sebesar 8,02 persen.
Bank spesialis kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) itu menjaga kualitas asetnya, dengan capaian rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di 2,41 persen pada semester I 2018.
UMKM tetap menjadi andalan portofolio kredit BRI dengan penyaluran Rp602,7 Triliun atau mencakup 75,9 persen dari total kredit BRI.
"Target kami di tahun 2022 penyaluran kredit ke segmen UMKM mencapai 80 persen dari total kredit BRI," kata Supra.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI naik sebesar 9,11 persen ke posisi Rp838 triliun, atau lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK akhir Juni 2018 yang sebesar 6,99 persen.
Suprajarto mengklaim efisiensi BRI juga membaik, ditunjang peningkatan kapasitas Teknologi Informatika. Indikatornya rasio biaya operasional terhadap beban operasional (BOPO) BRI turun tipis ke 72 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 73,4 persen.
Dengan penyaluran kredit dan penghimpunan DPK tersebut, aset BRI di paruh pertama tahun ini sebesar Rp1153 triliun, naik dibandingkan periode sama 2017 yang sebesar Rp1126 triliun