INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perubahan era teknologi yang terjadi di industri game dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah pemahaman tentang gaming di depan mata kita, baik secara harfiah maupun kiasan. Banyaknya kompetisi game di berbagai platform digital juga mempengaruhi perubahan itu.
Menurut laporan State of Gaming dari Dell terhadap 5.763 pemain video game berusia 14 hingga 87 tahun dari 11 negara (Australia, Brazil, Jepang, Kanada, Tiongkok, Perancis, Jerman, India, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat) mengungkapkan bahwa para gamers saat ini sangat beragam dari berbagai usia, dari remaja, dewasa, rekan kerja, bahkan anak dibawah umur.
Selain itu, komunitas game kini terus berkembang karena didorong dengan adanya popularitas e-sport di platform online dan media sosial.
"Sekarang sebutan sebagai seorang gamer tidak lagi dipandang sebagai hal yang buruk. Banyak yang menyatakan bahwa seorang gamer itu sebuah pekerjaan yang keren," ungkap Tjipto Suparto, Consumer Country Director Dell Indonesia saat hadir di acara peluncuran kedua laptop baru Dell G Series di Greenhouse, Jakarta siang tadi (26/7).
Hasil survei State of Gaming menunjukkan, tidak sampai satu dari 10 orang merasa "dihakimi", "kekanak-kanakan", atau "malu" disebut sebagai seorang gamer.
Sebaliknya, mereka menganggap sebutan "gamer" sebagai citra yang positif, sebanyak 35% dianggap menyenangkan, 29% dianggap "keren", dan sebanyak 26% dianggap bersemangat.
Saat ini, para gamer juga tidak hanya dari kalangan laki-laki saja, karena hanya 14% pemain game di seluruh dunia yang peduli dengan jenis kelamin lawan mereka.
Ketika diminta menyebutkan faktor apa saja yang menjadi pertimbangan utama tentang gamer saingan mereka, menyebutkan, sebanyakan 8% faktor budaya, 7% faktor orientasi politik, 6% karena faktor orientasi seksual, dan yang paling penting yakni 40% faktor keterampilan gamer yang menjadi lawan mereka.