INDUSTRY.co.id - Samarinda- Produksi padi di Provinsi Kalimantan Timur pada 2018 diproyeksikan mengalami kenaikan hanya 0,17 persen ketimbang 2017 atau dari 400.102 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 400.778 ton GKG.
"Berdasarkan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi yang terus dilakukan, kami optimistis akan terjadi peningkatan produksi sebanyak 676 ton GKG atau naik 0,17 persen," ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Kaltim Ibrahim di Samarinda, Senin (2/7/2018)
Produksi padi di Kaltim pada 2016 sebanyak 305.337 ton GKG, kemudian tahun 2017 mengalami kenaikan 31,04 persen menjadi 400.102 ton atau terjadi penambahan 94.765 ton GKG.
Diakuinya bahwa masalah paling krusial di Kaltim dalam upaya mendorong masyarakat lebih semangat menggeluti pertanian tanaman pangan berupa padi, terletak pada jaminan pasokan air yang tidak pasti, padahal kecukupan air merupakan hal terpenting dalam meningkatkan produksi padi.
"Hingga saat ini petani terus dihadapkan pada masalah klasik, yaitu masih kesulitan air karena mengandalkan sawah tadah hujan, sementara curah hujannya rendah atau tidak hujan. Sedangkan pada musim hujan justru ada sawah yang kebanjiran," katanya seperti dilansir Antara.
Petani sangat mengharapkan adanya irigasi teknis, namun untuk mengubah irigasi alam menjadi teknis diperlukan dana cukup besar. Di sisi lain, kondisi APBD Kaltim masih terbatas.
Beberapa bendungan yang dibangun pemerintah juga belum selesai, sehingga belum mampu menjawab kesulitan petani terhadap kebutuhan air guna meningkatkan hasil panen.
Sejumlah bendungan yang masih belum rampung itu seperti Bendungan Marangkayu di Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, kemudian bendungan di Muara Telake, Kabupaten Paser.
Kaltim memiliki banyak sungai yang airnya belum maksimal dikelola untuk pertanian. Air sungai yang dimanfaatkan untuk pertanian masih sedikit dibandingkan di Pulau Jawa, sehingga kondisi ini juga perlu mendapat perhatian tersendiri.
Terkait dengan upaya menambah luasan panen padi, ia menargetkan pada 2018 luas panennya bisa mengalami peningkatan sampai 3,07 persen, atau akan naik menjadi 97.293 hektare (ha) ketimbang 2017.
"Luas panen tahun 2017 juga sudah terjadi kenaikan jika dibandingkan dengan 2016. Di tahun 2016 luas panennya 80.343 ha, kemudian tahun 2017 naik menjadi 94.393 ha. Berarti terjadi peningkatan 17,49 persen, atau mengalami penambahan seluas 14.050 ha," kata Ibrahim.