INDUSTRY.co.id - Semarang- Budayawan Jaya Suprana menyebutkan bahwa Pasar Imlek Semawis yang digelar tiap tahun di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, merupakan salah satu bentuk toleransi antarumat beragama.

"Pasar Imlek Semawis Semarang itu contoh toleransi karena semua rakyat (dari berbagai latar belakang) berada di sana," katanya di Semarang, Sabtu (28/1/2017).

Seperti dilansir Antara, pendiri Museum Rekor Indonesia itu mengaku terharu dengan diselenggarakannya Pasar Imlek Semawis di tengah krisis Bhinneka Tunggal Ika.

"Saya terharu sekali, krisis Bhinneka Tunggal Ika dan intoleransi gak ada itu semua, anda lihat apa yang terjadi di (Pasar Imlek) Semawis, rakyat berkumpul semua, meskipun berbeda etnis bangsa, ras, sosial, agama, kaya miskin, laki perempuan," ujarnya.

Pria kelahiran 27 Januari 1949 yang dibesarkan di Kota Semarang itu berharap, kegiatan Pasar Imlek Semawis bisa diselenggarakan di berbagai daerah lainnya guna mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Pasar Imlek Semawis Semarang yang merupakan even tahunan dibuka oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pada Selasa (24/1) malam.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Haryanto Halim menjelaskan penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis Semarang kali ini mengangkat tema "Pasar Obar-Abir".

"Tema ini juga mendalam maknanya. Artinya, warna-warni kebhinnekaan dalam satu kesatuan yang wajib didukung semua pihak. Masyarakat Semarang meyakini keberagaman adalah keniscayaan," katanya.

Bahkan, kata dia, hidangan yang disajikan dalam tradisi "tuk panjang" juga mengacu tema yang beraneka ragam, seperti lunpia cap go meh, sup shanghai, brokoli jamur tungku, hingga jajan pasar.

"Semoga keharmonisan selalu mewarnai kehidupan di tahun ayam mendatang," pungkasnya.

Sementara itu warga keturunan Tionghoa di Kota Madiun, Jawa Timur mendoakan bangsa Indonesia agar lebih baik di Tahun Baru Imlek 2568/2017 dalam sembahyang yang dipusatkan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hwie Ing Kiong atau Klenteng Madiun.

Humas TITD Hwie Ing Kiong Madiun, Lianawati di Madiun, Sabtu(27/1/2017)  mengatakan, di tahun Ayam Api kali ini, semua warga Tionghoa Madiun berharap masyarakat Indonesia diberikan kelancaran rezeki. 

 

"Hujan rintik yang turun semalaman kemarin bisa diartikan sebagai pertanda turunnya rezeki. Kalau hujannya deras, tentu bisa diartikan pula menimbulkan bencana. Tinggal bagaimana memaknainya," ujar Lianawati kepada wartawan. 

 

Menurut dia, Imlek tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya yang menerapkan prinsip kesederhanaan. Dengan kondisi yang sederhana, warga Tionghoa pada tengah malam melakukan puncak perayaan Imlek dengan sembahyang khusyuk di Klenteng Madiun. 

"Tahun ini sama tidak glamor, sedangkan hiburan baru digelar pada malam nanti. Baik barongsai dan hiburan lainnya," tuturnya. 

Ia menjelaskan, tahun kemarin dipakai warga Tionghoa sebagai bahan introspeksi diri agar kehidupan di tahun 2568 berjalan lebih baik. Mereka juga mendoakan bagi keluarga dan leluhur masing-masing.