INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) M Fanshurullah Asa menyatakan lembaga yang dipimpinnya masih selaras dengan tantangan yang dihadapi sektor migas nasional pada masa kini dan periode mendatang.

"BPH Migas masih penting dan sesuai tantangan zaman ke depan," kata Fanshurullah Asa dalam lokakarya memperingati ulang tahun ke-15 BPH Migas di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Menurutnya, bila di bagian hulu sumber energi fosil seperti minyak dan gas bumi berpotensi habis, tetapi untuk pengaturan hilir sektor energi akan terus dapat dipastikan harus selalu ada selama masih ada umat manusia.

Untuk itu, Kepala BPH Migas juga meyakini bahwa pihaknya bakal terus selalu mengatur hilir sektor energi yang efisiensi, berkeadilan dan berkelanjutan.

Pembicara lainnya, mantan Kepala BPH Migas Tubagus Haryono mengenang bahwa meski mengalami banyak rintangan pada awal pembentukannya pada 2003, tetapi berkat dukungan berbagai pemangku kepentingan, BPH Migas bisa terus berjalan hingga kini.

Menurut Tubagus Haryono, BPH Migas pada saat ini harus memperhatikan bahwa di tingkat global, pengunaan energi fosil ke depannya diperkirakan akan semakin jauh berkurang.

"Misalnya pada 2030, Jerman berencana tidak lagi menggunakan mobil dengan bensin, mereka lebih fokus kepada mobil listrik," katanya.

Untuk itu, ujar dia, sektor energi ke depannya memerlukan peran BPH Migas yang lebih aktif dan lebih besar lagi sehingga diharapkannya eksistensi lembaga ini juga akan terus ada.

Hal teraebut, lanjutnya, karena bila aspek hilir migas di Tanah Air tidak ada yang mengatur, maka dicemaskan penyelewengan BBM akan menjadi lebih luar biasa.

Sementara itu, pengamat aektor energi Qoyyum Tjandranegara mengingatkan pentingnya untuk fokus kepada energi terbarukan khususnya kepada tenaga solar karena sinar matahari Nusantara sangat melimpah dan tidak habis-habis.

Sebelumnya, Plt Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati memaparkan perusahaan migas tersebut sedang bertransformasi memaksimalkan media digital untuk ditargetkan pada sektor bisnis hilir.

"Salah satu kompetisi yang sudah kami lakukan adalah gandeng start up untuk perkuat hilir," kata Nicke di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (25/4/2018).

PT Pertamina juga tidak menutup kemungkinan bermitra dengan industri digital yang sudah langsung menyentuh masyarakat. Menurutnya industri migas berkonversi ke dunia digital sudah berlangsung lama.

Oleh karena itu, Pertamina harus mengejar ketertinggalan tersebut, setelah sebelumnya berupaya menciptakan inovasi digital sendiri, kini mulai menjajaki bermitra dengan kreator digital muda. (ant)