INDUSTRY.co.id - Jakarta - Konsultan properti Colliers International menyatakan bahwa faktor populasi Republik Indonesia yang berjumlah lebih dari 260 juta orang merupakan alasan utama dari masuknya banyak peritel asing ke dalam negeri.
"Jumlah penduduk Indonesia masih menjadi alasan utama peritel lokal besar dan asing untuk tetap berekspansi di Jakarta," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
Menurut Ferry, dari banyaknya peritel masuk di mal-mal ibukota, peritel yang bergerak di sektor "food and beverages" (makanan dan minuman) masih menjadi pendorong utama di tengah kondisi melesunya tingkat permintaan.
Ia juga mengingatkan bahwa rata-rata peritel makanan dan minuman tersebut ketika berekspansi di sebuah pusat perbelanjaan rata-rata membutuhkan ruang mulai dari sekitar 100-300 meter persegi.
Selain itu, ujar dia, dengan tingkat hunian pusat perbelanjaan yang berada di atas 85 persen, maka berarti hal tersebut dinilai masih tingkatan yang relatif aman bagi pengelola mal.
Pada saat ini, Ferry mengungkapkan bahwa mal kelas atas di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) sangat berpotensi menjadi alternatif untuk ekspansi dengan semakin terbatasnya ruang di mal kelas atas di Jakarta.
Sebelumnya, konsultan properti internasional Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan, kebijakan moratorium pembangunan mal atau pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta sejak 2011 membuat ekspansi meluas ke pinggiran ibukota seperti di daerah Bodetabek.
"Moratorium tersebut tidak mempengaruhi lokasi di luar batas kota DKI Jakarta dan kota-kota yang terbentang di sebelah barat, timur dan selatan kota menawarkan peluang ekspansi," kata Head of Research JLL Indonesia James Taylor.
Menurut dia, perkiraan pasokan pusat perbelanjaan ke depannya tidak akan berubah dengan hanya satu penyelesaian ritel perdana lainnya yang diharapkan tuntas selama jangka waktu lima tahun ke depan.
Ia mencontohkan, perluasan Pondok Indah Mall di Jakarta Selatan, yang berada di tengah-tengah komunitas perumahan menengah ke atas, diperkirakan akan dicapai pada tahun 2019.
"Pengembang yang mencari pijakan di pasar dapat terus menggali peluang di kota-kota di Jakarta Raya atau di kota-kota lapis kedua dan ketiga yang tidak terpengaruh oleh pembatasan pasokan," ucapnya.
Kajian yang dilakukan JLL juga menunjukkan bahwa jumlah warga yang berkunjung ke pasar perbelanjaan utama tetap dipandang sebagai lokasi hiburan yang layak.
Hal itu, ujar dia, karena mal dengan gerai makanan dan minuman yang atraktif dan pilihan hiburan sekaligus keramaian tetap bisa menarik pengunjung.
JLL juga menyoroti beberapa pusat perbelanjaan tutup pada paruh kedua tahun 2017 antara lain karena pembeli lebih memilih membeli melalui mekanisme daring karena penawaran e-commerce Indonesia menjadi lebih canggih dan peminat belanja daring di dalam negeri juga semakin bertambah. (tar)