INDUSTRY.co.id -Jakarta, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, yang menjadi persoalan saat ini adalah dari petani sampai pedagang dikuasai oleh tengkulak.
Namun, menurutnya, kita tidak bisa memerangi tengkulak karena pedagang sangat berterima kasih dengan mereka yang memberikan kredit.
"Bank BPR dan KUR tidak menyentuh mereka. Inilah yang membentuk harga tinggi, karena dari awal sudah diberikan pinjaman dan kesepakatan harga tidak seimbang," ujar Enggartiasto di Jakarta Convention Center, Jumat (9/3/2018).
Mendag menekankan pentingnya peran pengusaha sebagai offtaker dan menggantikan peran tengkulak. Menurutnya, pengusaha hadir tidak hanya untuk memberikan jaminan pembelian tetapi juga sebagai avalis.
Lebih lanjut, ia menuturkan, sama seperti halnya sektor tanaman pangan, industri perikanan yang juga amat bergantung pada kondisi alam, selain membutuhkan jaminan ketersediaan lahan (khususnya di sektor perikanan kolam atau tambak), membutuhkan pula jaminan asuransi guna mengantisipasi kegagalan.
"Penyediaan lahan dengan pola clustering didukung infrastruktur yang memadai dinilainya akan menarik minat investor," tutur Enggar.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengatakan, semakin banyak investor yang tertarik, otomatis dapat mendorong minat perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit di sektor ini, yang berlanjut pada meningkatnya skala ekonomi industri perikanan.
Disisi lain, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Suprajarto mengatakan BRI saat ini adalah bank yang konsen terhadap petani, peternak dan nelayan dengan total jumlah debitur hampir 1,8 juta debitur.
Suprajanto mengatakan ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk pengembangan pertanian, peternakan dan perikanan yaitu, business model dalam halpenyaluran kredit, offtaker dari swasta maupun bumn untuk menjamin penjualan hasil produksi petani, dan skala ekonomi.