INDUSTRY.co.id - JAKARTA – AFDS kembali mencuri perhatian di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026 lewat presentasi couture bertajuk Elysian Currents: Sebuah Fantasi Asia Tenggara dalam Gaya Couture. 

Mengusung perpaduan warisan budaya, fantasi, dan sentuhan futuristik, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman mode yang imersif sekaligus menegaskan kekuatan kreativitas desainer Asia Tenggara di kancah internasional.

Dalam presentasi kali ini, AFDS mempertemukan tiga perancang visioner dari kawasan Asia Tenggara yang masing-masing menghadirkan interpretasi berbeda tentang haute couture modern. Ketiganya menyajikan narasi yang saling terhubung, menciptakan perjalanan visual yang sinematik di atas catwalk.

Pertunjukan dibuka oleh Thoulany Chanthalangsy, yang mengangkat kembali kekayaan motif tradisional Laos melalui pendekatan kontemporer. Koleksinya memadukan teknik kerajinan khas, konstruksi busana modern, dan sentuhan budaya yang elegan sehingga identitas Laos tampil relevan dalam lanskap mode global.

Atmosfer kemudian bergeser ketika Indra Murak mempersembahkan koleksi yang terinspirasi dari hutan magis, kisah dongeng, dan seni fantasi. Siluet lembut, tekstur yang menyerupai mimpi, serta detail-detail puitis menghadirkan dunia couture yang penuh imajinasi dan memikat perhatian para penikmat mode.

Salah satu karya Erjohn Dela Serna yang menutup rangkaian koleksi 3 desainer AFDS di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026.

Sebagai penutup, Erjohn Dela Serna memperkenalkan koleksi bertajuk Liquid Reverie, sebuah eksplorasi futuristik mengenai air, refleksi, dan gerakan yang mengalir. Deretan gaun berstruktur menyerupai karya seni pahatan tampil dalam palet warna biru tengah malam, perak, lavender, hijau zaitun, hingga merah muda pucat yang memancarkan efek berkilau layaknya permukaan air.

Melalui koleksi tersebut, Erjohn menampilkan representasi perempuan modern yang kuat, percaya diri, sekaligus anggun dalam balutan haute couture yang inovatif.

Ketiga koleksi itu berpadu menjadi sebuah narasi visual yang merayakan keberagaman budaya Asia Tenggara melalui inovasi desain, keterampilan artistik, dan eksplorasi estetika couture. Lewat Elysian Currents, AFDS menegaskan posisinya sebagai salah satu pelopor perkembangan mode kawasan yang mampu menjembatani tradisi dengan visi masa depan.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi bukti bahwa warisan budaya Asia Tenggara dapat diterjemahkan ke dalam bahasa mode modern yang relevan, berkelas, dan memiliki daya saing di tingkat global.

BRI JF3 Fashion Festival sendiri merupakan inisiatif Summarecon yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia. 

Ajang ini terus menjadi wadah bagi desainer lokal maupun regional untuk memperkenalkan inovasi, kreativitas, dan kekayaan budaya melalui industri fesyen.