INDUSTRY.co.id -Jakarta, Indonesia dinilai perlu menyasar dan mencari peluang menggenjot ekspor ke Sudan. Pasalnya, negara tersebut sudah merdeka dan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat (AS) sudah dicabut pada 2017. Dengan begitu, peluang untuk memasarkan produk ekspor sangat berpotensi.
Hal tersebut disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) RI untuk Sudan Rossalis Rusman Adenan di Kantor Pusat Kadin, Jakarta (5/3/2018).
"Sudan memang dikenal negara konflik, tapi 2011 Sudan Selatan sudah merdeka. Artinya, potensi (ekspor) itu besar," ujarnya.
Produk yang terbuka dan berpotensi untuk di ekspor Indonesia saat ini adalah komoditas kelapa sawit, pertambangan, peternakan, tekstil, hingga makanan kemasan bisa dimanfaatkan untuk diekspor ke Sudan.
"Komoditas seperti itu sangat berpotensi untuk diekspor ke Sudan," imbuhnya.
Selain itu, ekspor tradisional seperti peternakan sangat menunjang, utamanya daging. Pasalnya, menjelang Hari Raya Idul Adha, Sudan membutuhkan ratusan ribu daging.
"Salah satunya impor daging setiap Idul Adha. Di sana peternak daging sangat potensial, kalau untuk pertanian sangat cocok itu kapas," kata Rossalis.
Dia mengatakan, saat ini volume perdagangan Indonesia ke Sudan masih minim dan lebih didominasi impor minyak dari Sudan Selatan. Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong ekspor ke Sudan, termasuk dengan mendirikan forum bisnis Indonesia-Sudan guna mendongkrak pertumbuhan ekspor kedua negara tersebut.
"Saya akan mendirikan Indonesia Sudan Business Forum, lalu Preferensi Al Trade Agreement (PTA) dijadikan prioritas, saya juga sudah bicara dengan pengusaha yang sudah menyampaikan minatnya untuk melakukan investasi ke Sudan," terangnya.
Menurutnya, kerja sama bilateral tersebut dianggap efektif untuk mendorong kinerja ekspor Tanah Air. Cara tersebut, terbukti berhasil dilakukan pada kerja sama perdagangan Indonesia-Pakistan yang mengalami surplus.
"Volume perdagangan Indonesia Pakistan dulu US$400 juta sekarang US$2,1 miliar. Pengalaman saya di sana (Pakistan) saya coba di Sudan," imbuhnya.
Nantinya, kata Rossalis, pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan terlibat dalam forum tersebut, guna memberikan masukan. Selain itu, para pelaku usaha bisa mengetahui bidang apa saja yang akan diekspor ke Sudan.
"Jadi sifatnya dari Kadin di sana, kita harus segera bentuk. Mekanismenya atau skemanya satu tahun dua kali. Saya coba usahakan ketuanya harus ikut," tuturnya.