INDUSTRY co.id - Jakarta-Ulama sederhana dengan memakai koko dan peci hitam, dialah Mufti negara bagian Perlis, Malaysia, Dr. Mohd Asri Zainul Abidin atau yang dikenal dengan nama Dr. Maza, berkesempatan bersilaturahim dengan kalangan jurnalis.

DR Maza dalam dialognya membentangkan sekelumit pemikirannya terhadap pemahaman hadis. Berbeda dengan kebanyakan ulama, DR Maza mengetengahkan pemahaman hadis disesuaikan dengan konteksnya.

"Misalnya berbekam, Rasul berbekam ketika sakit di kepala, namun sekarang orang enggak sakit berbekam. Ini tidak melihat konteks hadis," kata dia saat di Restoran Sederhana Kuningan di Jakarta dua hari lalu ditulis Sabtu (3/2/2018).

Begitupula ketika DR Maza menerangkan soal menjawab salam. Banyak yang terperanjat, seorang alim ini begitu menjaga hubungan baik terhadap non Muslim.

"Kalau ada orang non Muslim memberikan salam,  asalamualaikum, kita harus jawab sesuai apa yang kita jawab atas sesama Muslim. Kecuali salamnya untuk mencela itu cukup waalaika," kayanya.

Atas pemahaman hadis secara kontekstual, bukan tekstual, DR Maza tidak ingin dihubungkan dengan kaum liberal. Menurutnya, kaum liberal tanpa berpijak dengan nash alquran dan hadis.

"Saya tetap menjadikan nash sebagai rujukan, itu yang membedakan saya dengan kaum liberal," katanya.

Sementara kedudukan beliau sebagai mufti dianggap yang memegang komando dalam hal fatwa secara individual. Di sana fatwa tentunya dipatuhi, berbeda dengan Indonesia fatwa belum tentu dipatuhi oleh sebagian yang lainnya,  termasuk soal ketetapan Idul Fitri dan Idul Adha

"Fatwa bisa terikat ke masyarakat sesudah diundangkan oleh DPR, setelah itu bagi yang melanggar akan ada implikasinya," katanya.