INDUSTRY.co.id - Jakarta, Nilai pembiayaan pasar modal di tahun 2017 berhasil melampaui kredit perbankan. Penerbitan instrumen baru diyakini membuat pembiayaan pasar modal makin besar di tahun 2018.

Advertisement

Fakta menarik tersebut diungkapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada periode Januari 2017 - November 2017 nilai pembiayaan dari instrumen pasar modal tercatat mencapai Rp 276,5 triliun. Angka ini menunjukan pertumbuhan sekitar 24% dibanding periode yang sama tahun 2016.

Advertisement

Lebih menarik lagi, angka pembiayaan tersebut telah melampaui nilai kredit industri perbankan yang tercatat sebesar Rp 217,02 triliun untuk periode tersebut.

Meski belum memasukan data Desember 2017, OJK yakin hingga penghujung 2017, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan tidak lebih dari 8%.

Advertisement

Fakta tadi diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso disela acara Penutupan Perdagangan Pasar Modal 2017 di Gedung Bursa Efek Indonesia, 29 Desember 2017 lalu.

Menurutnya instrumen pembiayaan yang paling banyak digunakan di pasar modal adalah obligasi dengan penyerapan dana mencapai Rp 162,7 triliun.

Advertisement

Kemudian instrumen saham sebesar Rp 73,8 triliun dan surat utang jangka menengah, sertifikat deposito, dan "Promissory Notes" yang secara kumulatif sebesar Rp 40 triliun.

"Di pasar modal itu, begitu kita keluarkan surat utang, sudah tidak ada risiko suku bunga, apalagi kalau sudah di-set fix. Jadi ini berbeda dengan kredit perbankan," ujar Wimboh.

Untuk tahun 2018 ini OJK yakin penghimpunan dana di pasar modal di tahun depan akan terus mengalami peningkatan yang positif.

Peningkatan tersebut didorong berbagai faktor, salah satunya dengan kinerja positif IHSG di tahun ini yang menjadi katalis positif.

Tercatat, pada penutupan perdagangan akhir tahun 2017, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,66 persen atau 41,61 poin ke level 6.355,65, dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 7.072 triliun.

Selain itu OJK menurutnya akan banyak mengeluarkan instrumen-instrumen investasi baru dalam rangka pendalaman pasar keuangan, salah satunya instrumen lindung nilai (hedging).

"Tahun depan akan lebih banyak instrumen baru. Nanti kita ada instrumen 'hedging', terus instrumen lain yang kaitannya dengan perpetual , yang sedang kita garap. Nanti akan banyak sekali instrumen dalam konteks pendalaman pasar keuangan. Semua itu untuk mempermudah dan mendorong pembiayaan lebih banyak dari pasar modal," kata Wimboh.

Di tempat yang sama, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat menilai tren pembiayaan di pasar modal akan semakin semarak.

Samsul menilai, tren shiting pembiayaan dari perbankan ke pasar modal berada dalam jalur yang positif.

“Harapannya demikian karena ini trennya sudah bagus ya,” ujarnya.