INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung penuh pembentukan Holding Migas, bahkan pembentukannya sudah mendesak dan tidak bisa ditunda lagi, kata Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Industri Hulu dan Petrokimia Achmad Widjaya.

"Industri sudah lama menunggu. Sudah bertahun-tahun, dari kabinet ke kabinet. Jadi, awal tahun ini, berilah bonus yang terbaik bagi industri yaitu melalui pembentukan Holding Migas. Dengan demikian, industri bisa menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi yang betul-betul mutlak, yaitu lima koma sekian persen yang dicanangkan," kata Widjaya, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (25/1/2018)

Menurut dia, pembentukan Holding Migas akan sangat positif karena dengan satu regulasi dalam holding, maka efisiensi bisa ditingkatkan dan harga gas akan bisa ditekan sehingga menjadi lebih murah.

"Begitu memulai Holding Migas, semua akan menjadi indah karena tidak ada persaingan antara sesama BUMN. Mereka semua akan fokus, sehingga gas terpelihara dengan baik, begitu pula dengan BBM termasuk solar untuk industri juga akan lebih baik," ujarnya pula.

Karena satu regulasi itulah, lanjut Widjaya, harga gas juga akan menjadi sama.

Namun, Pertamina memang harus memastikan bahwa PGN dan Pertagas juga dilebur menjadi satu. Dengan peleburan itu, tidak akan ada lagi infrastruktur yang tumpang tindih.

"Satu pintu itu kuncinya. Kita sekarang tinggal menunggu Presiden untuk merealisasikan. Terlebih, sebelumnya holding sudah ada untuk semen, pupuk, dan bahkan perkebunan. Sekarang tinggal Holding Migas," ujarnya pula.

Namun tentang peleburan itu, Widjaya tidak sependapat jika PGN yang harus mengambil alih Pertagas. Justru yang sangat layak adalah Pertagas yang mengambil alih PGN.

"Bukan PGN mengambil alih Pertagas, itu terbalik. Harus ingat bahwa Pertagas adalah anak perusahaan Pertamina. Untuk itu, perhitungan aset juga harus dilihat secara over all. Lagi pula secara logika, Pertagas yang memiliki usaha dari hulu ke hilir. Sedangkan PGN hilir banget," ujar Widjaya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Ali Herman berharap, pembentukan Holding Migas bisa berpengaruh baik bagi perusahaan listrik swasta karena perusahaan listrik swasta merupakan komoditas gas dalam jumlah sangat besar yang memiliki kontrak jangka panjang.

"Pembentukan holding tentu positif. Mudah-mudahan ada pengaruhnya terhadap gas 'security' dan 'competitiveness' dari suplai gas," kata Ali.

Jaminan suplai gas dari hulu, menurut Ali, memang menjadi persoalan paling relevan bagi perusahaan listrik swasta. Selain itu, persoalan harga saat ini dianggap cukup tinggi. Bukan hanya dibandingkan dengan AS, tetapi juga dengan negara tetangga.

Jika harga gas di Tanah Air bisa ditekan, tentu hal ini akan membuat produk-produk tanah air menjadi lebih kompetitif, ujarnya.

"Kita harus bersaing dengan harga gas di Malaysia, Thailand, Vietnam, dan tentu saja AS yang harganya sangat baik. Selama ini harga gas kita memang mahal. Di sini bahkan masih ada yang seharga 9 dolar AS per MMBTU, walau pun untuk listrik swasta bisa rata-rata 7 dolar AS per MMBTU. Bagaimana kita bisa bersaing dengan produk dari Meksiko misalnya, karena mereka bisa dapat gas dar AS dengan harga 4,6 dolar AS per MMBTU," katanya lagi.