INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kebijakan pemerintah untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan di perairan Indonesia menjadi polemik di pemerintahan Indonesia.
Sebelumnya tersiar kabar bahwa, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan bakal menghentikan penenggelaman kapal yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam tiga tahun terakhir.
Menurutnya, saat ini pemerintah tak lagi fokus pada penindakan penangkapan ikan ilegal, tetapi peningkatan produksi ikan tanah air.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengaku pihaknya mendukung upaya pemerintah tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak perlu membuang-buang anggaran untuk penenggelaman kapal.
"Anggaran penenggelaman kapal itu tahun 2015 sekitar Rp 60 miliar. Akan lebih efektif bila diberikan kepada nelayan untuk budi daya kerja," ujar Yugi di Jakarta (10/1/2018).
Yugi menegaskan, penenggelaman kapal hanya akan mengeluarkan dua kali biaya. Selain itu, penenggelaman kapal juga menghilangkan pendapatan negara jika diberikan ke nelayan.
Nelayan akan mengelola dan mendapatkan ikan dari kapal tersebut. Penghasilan nelayan tersebut digunakan untuk membayar pajak perikanan.
"Terus di satu sisi, gaji kita dipotong buat bayar pajak dan APBN Rp 9 triliun dikasih ke (Menteri) Susi. Susi bangun lagi kapal, dikasih lagi ke nelayan. Pakai logika saja begitu. Duit kenapa dua kali keluar. Buang-buang duit saja," tegasnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan saat ini pemerintah hanya fokus untuk mengawasi sektor kelautan. Menurutnya, tiga tahun ini sudah membuat para mafia perikanan takut.
"Ya pengawasan dari TNI dan segala macam. Kita selalu bilang ini itu dicuri, tapi kita selalu tidak mau mengawal laut kita. Anggaran angkatan laut juga terbatas. Untuk memangkas anggaran, kita stop penenggelaman kapal. Orang sudah takut dengan negara kita, sekarang kita hanya tinggal mengawasi," tegas Yugi.
Meski demikian, Yugi juga memuji langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam menenggelamkan kapal. Menurutnya, langkah yang dilakukan itu membuat shock therapy kepada dunia luar.
"Dengan shock therapy ini saya setuju, dan penenggelaman kapal ini sudah bagus. Namun, tidak perlu lagi dilakukan penenggelaman kapal. Kita fokus saja untuk memajukan nelayan, tidak usah dari isu ini jadi polemik," pungkasnya.