INDUSTRY.co.id - Bogor, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) diseminasikan hasil penelitian dan pengembangan (litbang) terapan Balai Besar Industri Agro (BBIA), Kementerian Perindustrian di Bogor, Senin, kemarin.
Kapuslitbang Industri Hijau & LH BPPI, Teddy C Sianturi mengatakan, sesuai dengan tugas dan fungsinya, balai litbang yang berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) berperan aktif melaksanakan alih teknologi hasil litbang kepada industri pengguna.
"Tujuannya, agar mampu bersaing dari aspek harga, industri dalam negeri membutuhkan dukungan teknologi dalam rangka efisiensi," ujar Teddy C. Sianturi.
Sementara untuk bersaing dalam menciptakan produk yang lebih bervariasi, lanjutnya, diperlukan dukungan kemampuan desain produk dan inovasi.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Industri Agro (BBIA), Umar Habson menambahkan bahwa untuk membangun sektor mamin (makanan dan minuman) diperlukan inovasi.
Seperti diketahui, BBIA adalah pusat riset agro industri di bawah kemenperin dan ditetapkan sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Nasional bidang hilirisasi produk agro oleh Kemenyerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tahun 2016 dan mendapatkan anugerah Prayoga Sala tahun 2017.
"BBIA akan terus berbenah meningkatkan kompetensi sebagai pusat riset dan juga penyedia jasa teknis unggulan untuk industri mamin seperti pengujian bromat, pengujian nutrisi dan kontaminan, uji profisiensi, dan pendugaan umur simpan produk agro," ungkap Umar.
Ia menambahkan, Kami ingin membantu industri dengan menyediakan litbang dan teknologi proses yang siap terap. "BBIA rutin tiap tahun mendiseminasikan hasil inovasi pengembangan produk dan teknologi proses kepada industri," terangnya.
Menurutnya, tahun 2017 dilakukan dua kali, pertama, untuk pewarna alami pada temu bisnis bulan Juli dan kali ini untuk teknologi siap terap pangan berbasis tepung mocaf (modified cassava flour), cocoa butter subtitues (CBS) berbasis sawit untuk industri coklat, dan rancang bangun peralatan proses pengolahan holtikultura.
"BBIA juga sedang memfasilitasi ekspor produk ekstrak buah merah Papua ke pasar eropa. Teknologi proses dikembangkan oleh BBIA, kemudian didiseminasikan ke IKM di Papua untuk memproduksi. Saat ini masih dalam tahap registrasi ke badan regulasi pangan di Eropa sana. Harapannya kedepan produk tersebut bisa dipasarkan ke Eropa," imbuhnya.
Umar menuturkan, terkait hilirisasi rumput laut saat ini, BBIA sedang menyiapkan teknologi proses untuk PT Bantimurung Indah (Bosowa Group) dalam produksi refined carrageenan untuk pasar ekspor. Selain teknologi produksi, BBIA juga membantu fasilitasi jejaring dengan mitra luar negeri termasuk calon investor.
"Kedepan, model kerjasama seperti buah merah dan rumput laut ini akan terus dikembangkan BBIA untuk memperkuat daya saing industri nasional," tuturnya.
Kepada wartawan Teddy menambahkan, sinergi dengan balai-balai lain di Indonesia tetap dilakukan salah satunya lewat BPPI yang memantau agar tidak terjadi tumpang tindih penelitian, termasuk dalam hal alokasi anggaran.
Tidak hanya dalam lingkungan Kementrian Perindustrian, namun juga dengan Kemenristek atau Kementrian lainnya. BPPI juga berharap, agar hasil penelitian ini nantinya dapat sampai pada tahap komersialisasi, yang bisa dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat.
Pada kesempatan ini disampaikan hasil-hasil penelitian BBIA dibidang mokaf, coklat dan rancang bangun peralatan industri. Hadir juga beberapa narasumber diantaranya H.Zetrialdi Goechie, Dirut PT Zena Nirmala, yang berharap agar hasil litbang bisa menjadi komersial.
Menurutnya, saat ini baru sekitar 18 persen hasil penelitian ini dapat diserap oleh pasar komersial.
Diseminasi ini merupakan ajang komunikasi antara peneliti, perekayasa dan dunia usaha sebagai calon pengguna, dan pemangku kebijakan. Harapannya melalui kegiatan ini hasil penelitian dari perekayasa dapat bermanfaat, sebagai informasi hasil litbang BBIA yang inovatif kepada industri.dan sebagai umpan balik bagi litbang.