INDUSTRY.co.id - Jakarta- Bisnis ritel konvensional sedang mengalami guncangan yang begitu hebat. PT Matahari Department Store Tbk menutup dua gerai mereka di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai pada akhir September.
Tak hanya di Indonesia, penutupan gerai ritel kian lazim terjadi secara global. Terbaru, raksasa supermarket Giant mengumumkan penghentian operasional lima tokonya di Malaysia.
Di saat bisnis ritel konvensional bertumbangan, kelompok TransMart malah menambah gerainya.Taipan lokal, pemilik imperium bisnis CT Corp, Chairul Tanjung, justru semakin ekspansif dengan membuka 30 gerai TransMart baru di seluruh Indonesia hingga akhir 2018.
"Kita merasa di era sekarang adalah era terbaik untuk kita investasi," ujar pria yang akrab disapa CT kepada INDUSTRY.co.id di Bekasi, akhir pekan lalu.
Ia menambahkan, sampai akhir tahun kita akan buka 23 TransMart. "Kemarin kita baru buka di Palembang, setelahnya di Mando, Solo dan Pasaraya Blok-M," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, setiap pekan, terutama hari kerja (weekdays) jumlah transaksi yang terbukukan di satu gerai TransMart sebanyak 6.000 transaksi. Sementara jumlah pengunjung bisa 100.000 per weekdays dan 150.000 per akhir pekan (weekend).
Menurutnya, toko-toko yang tutup ini tak bisa mengakomodasi perubahan zaman yang mulai memasuki era disruptive.
Pada era disruptive ini, aktivitas generasi milenial tak pernah lepas dari penggunaan gawai pintar. Segala hal dilakukan dengan gawai pintar. Hanya, saat ini mereka belum punya cukup uang untuk berbelanja.
"Tetapi, lima tahun dari sekarang, pasti mereka punya cukup uang untuk berbelanja. Ini potensi yang luar biasa besar. Bayangkan, tiap tahun ada 4 juta kelahiran baru di Indonesia," tutur sosok yang kerap dijuluki "Si Anak Singkong", ini.
Kendati demikian, dia melihat, saat ini porsi transaksi toko ritel fisik masih dominan ketimbang e-commerce.
"Penggunaan teknologi untuk perdagangan atau e-commerce ini sebuah keniscayaan. Enggak bisa ditolak. Tapi, kan era disruptive enggak cuma soal teknologi, juga perubahan perilaku dan gaya hidup," ucap dia.
Karena itu, Chairul meyakini, jika banyak pengunjung yang melakukan swafoto atau selfie, lantas menyebarkan foto tersebut di media sosial, berarti toko itu laku.
"Enggak peduli menu yang disajikan enak atau enggak. Yang penting bagus buat selfie, pasti ramai dan laku," imbuh dia.
Ada pun investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana 30 gerai baru TransMart ini senilai Rp 300 miliar per satu gerai. Itu artinya CT Corp harus merogoh pundi sekitar Rp 9 triliun.