INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Hartadinata Abadi Tbk, produsen dan penyedia perhiasan emas terintegrasi Indonesia di kuartal ketiga tahun 2017 membukukan laba bersih sebesar Rp95 miliar atau naik 28.4% dibandingkan periode yang sama tahun 2016, sebesar Rp75 milyar.
Kemudian total pendapatan pada kuartal ketiga ini tumbuh 13.1% menjadi Rp 1,860 triliun, dibandingkan periode sebelumnya.
Ada pun pendapatan operasional berasal dari penjualan wholesaler yang memberikan kontribusi 91,69%, toko milik sendiri 8.30%, dan wara laba 0.01%.
“Dalam kuartal ketiga ini, kinerja perusahaan sesuai dengan apa yang kami rencanakan yang tercermin dari peningkatan penjualan yang tinggi, pembukaan banyak saluran distribusi/ toko baru, dan juga ekspansi perusahaan ke luar Jawa Barat,” kata Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk Sandra Sunanto, dalam paparan kinerja perusahaan yang pertama setelah IPO, di Jakarta, Kamis (19/10).
Sandra menambahkan, penjualan didominasi oleh pasar segmen kelas menengah yang berkontribusi 70% terhadap total penjualan perusahaan, sehingga perusahaan meningkatkan penetrasi ke pasar kelas ini.
Selama kuartal ketiga 2017 ini, Hartadinata telah membuka lima toko perhiasan emas baru di Bandung, Jakarta, Batam, dan Banten yang terdiri dari 5 toko ACC, yang menyasar pada kelas menengah bawah.
Menurut Sandra kinerja Hartadinata Abadi menunjukan pertumbuhan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir, dimana pendapatan tumbuh tinggi dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 33.1% dari Rp1.355 juta di tahun 2014 menjadi Rp 2.193 juta di 2016.
Hartadinata Abadi telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada bulan Juni 2017, dengan kode perdagangan HRTA, termasuk dalam Sektor Consumer Goods dan Sub Sektor Others.
HRTA menawarkan 1.105.262.400 lembar saham, yang keseluruhannya merupakan saham baru, dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham.
Jumlah tersebut setara dengan 24% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor HRTA setelah IPO.
HRTA menghimpun dana dari pasar modal sebesar Rp 331 milyar.
Untuk dana yang diperoleh dari hasil IPO, kata Sandra, 50% akan digunakan untuk refinancing pinjaman modal kerja.
Sementara 50% sisa dana IPO akan digunakan untuk 42% pembelian bahan baku, 6% pembelian mesin dan 2% untuk pembentukan dan penerapan aplikasi sistem e-commerce.