INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, mengamankan hibah senilai KRW 14,69 miliar atau sekitar USD 10,64 juta dari Pemerintah Korea Selatan untuk program Establishment of Human Resource Development (HRD) System for Ppuri Technology in Indonesia.

Program kerja sama melalui The Korea-Indonesia Industry and Technology Cooperation Center (KITC) ini akan berjalan selama 2026–2030 dan menjadi langkah strategis memperkuat kapasitas SDM serta penguasaan teknologi dasar manufaktur di Indonesia.

“Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun industri yang berdaya saing. Kerja sama internasional perlu memberikan manfaat nyata melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan penguasaan teknologi yang dibutuhkan industri,” ujar Menperin Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/9).

Hibah tersebut disetujui oleh Ministry of Trade, Industry and Resources (MOTIR) Korea Selatan dan akan dikelola oleh Korea Institute for Advancement of Technology (KIAT). Pelaksanaannya dipimpin oleh konsorsium Korea Institute of Industrial Technology (KITECH) bersama The Korea National Ppuri Industry Center (KPIC) sebagai mitra dari pihak Korea.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menyampaikan saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) untuk menindaklanjuti kebutuhan teknis, termasuk penyelesaian perjanjian hibah dan penetapan lokasi pelaksanaan.

“Kami mengapresiasi dukungan dan kerja sama KITC sehingga program ini dapat dipersiapkan untuk dilaksanakan pada 2026–2030. Ditjen KPAII siap membantu menindaklanjuti kebutuhan yang berada dalam lingkup tugas dan fungsinya agar persiapan program dapat berjalan sesuai rencana,” kata Tri saat pertemuan dengan Direktur KITC, Ji Hyun Sung, di Jakarta (27/8).

Direktur KITC, Ji Hyun Sung, menilai pengembangan kompetensi Ppuri Technology sebagai bagian penting dalam meningkatkan kemampuan manufaktur Indonesia. Ia juga menyampaikan peluang memperluas kerja sama ke bidang strategis lain seperti industri hijau, transisi energi, kendaraan listrik, dan teknologi baterai.

“Selain pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, kami juga ingin menjajaki lebih jauh kerja sama di bidang industri hijau dan transisi energi, kendaraan listrik dan teknologi baterai, serta bidang prioritas lainnya yang menjadi perhatian Kementerian Perindustrian,” tambah Ji Hyun Sung.

Melalui kerja sama ini, Indonesia diharapkan memiliki SDM industri yang semakin siap menguasai teknologi dasar manufaktur, meningkatkan kualitas proses produksi, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang lebih maju. Dalam jangka lebih luas, penguatan kompetensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan teknologi dan daya saing industri manufaktur Indonesia.