INDUSTRY co.id -Jakarta - Pada pameran INDEX MOZAIK Indonesia 2017 beberapa waktu lalu, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menggelar forum yang membahas mengenai Building Information Modeling (BIM) - proses untuk menciptakan sebuah desain, dan juga membahas regulasi peraturan dalam merancang bangunan. BIM yang dimulai dengan menciptakan 3D model digital (bangunan secara virtual) yang berfungsi sebagai sarana untuk membuat perencanaan, perancangan, pelaksanaan pembangunan, serta pemeliharaan bangunan beserta infrastrukturnya.

Advertisement

"Arsitek mengharapkan dengan mengadopsi BIM, kita dapat membuat visualisasi dari berbagai alternatif desain dalam satu model, mengidentifikasi potensi ketidakcocokan antar komponen bangunan, mengomunikasikan desain secara 3 dimensi, dan tentunya meningkatkan produktivitas," ujar Aswin Indraprastha, Ketua Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung yang berbicara dalam forum Building Information Modeling (BIM) oleh IAI akhir pekan lalu.

Selain itu, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) juga mengapresiasi karya-karya terbaik desainer interior muda Indonesia dalam program HDII Award 2017.  Ada kategori Utama dan Kategori Konseptual. Kategori Utama sendiri terbagi atas enam sub kategori yakni Hunian/Residensial, Tempat Kerja/Working Space, Komersial/Retail, Restaurant, Lounge and Bars, Hospitality, dan Tempat Publik/Public Space. Masing-masing kategori menampilkan 5 nominasi terbaik dalam rancangan desain mereka.

Advertisement

“Sebenarnya orang Indonesia punya darah seni hanya masih belum diasah. Para desainer muda perlu mendesain produk yang lebih timeless dan lebih internasional, jadi bukan cuma follower. Seringkali desainer Indonesia masih terjebak pada langkah mendesain sesuatu hal yang egonya tinggi menurut kesukaannya sendiri bukan berdasar pada kesukaan masyarakat,” ujar Lea Aviliani Aziz selaku Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII).

Menurutnya, taste dari desain interor saat ini yang bergaya eclectic - perpaduan antara desain lawas (vintage) dan modern – perlu dibuat lebih kreatif dan inovatif. Adanya pameran yang diikuti 13 negara dan 5 paviliun besar dari luar negeri ini juga menjadi sarana bagi desainer Indonesia untuk membandingkan produknya dengan produk luar negeri, sehingga nantinya produk-produk Indonesia bisa memberikan kualitas yang lebih baik lagi daripada yang ada di pameran ini.

Advertisement

Pada hari kedua, Ong Cen Kuang - brand asal Bali yang terkenal dengan produk lampu-lampu unik dan inovatifnya, juga memanfaatkan INDEX MOZAIK Indonesia 2017 sebagai ajang untuk merilis desain terbarunya. “Saat ini, tren desain yang saya suka adalah merajut dengan besi. Ternyata di Indonesia, kerajinan menggunakan teknik ini diturunkan dari generasi ke generasi. Biasanya, kerajinan dengan teknik ini digunakan untuk wedding accessories. Saya senang karena kami bisa menerjemahkan teknik ini dengan bahan-bahan dasar menjadi sebuah lampu dekoratif,” ujar Budiman, pendiri Ong Cen Kuang.

Menurut Budiman, lighting atau pencahayaan menjadi salah satu unsur dalam desain interior, bahkan menjadi ornamen yang menjadi “jiwa” dari sebuah ruangan.

Advertisement

Diramaikan dengan Peserta Internasional Di deretan booth Makers Market yang bekerjasama dengan online marketplace MarketPlays.id yang ada di Hall A menyajikan sejumlah brand cinderamata unik dan kreatif seperti mug, dompet kulit, peralatan dapur, tas anyaman, atau bantal bercorak etnik. Keberadaan mereka mengundang minat dan atensi dari para pengunjung dan buyer INDEX MOZAIK Indonesia 2017. Beberapa merek yang berpartisipasi adalah Kamea Home, Mara Braun, Dwellingpals, Du'anyam, Dua Senja, 189 Craft, Fabelio, Atiya Living, On & On Living, Camani Home, Stärke, Semak Studios.

“Pameran INDEX MOZAIK Indonesia ini cukup bagus dibanding pemeran craft lain karena langsung berhubungan dengan buyer, kemudian interaksi buyernya juga oke, Biasanya transaksi justru terjadi setelah pameran sudah selesai, buyer baru menghubungi saya,” tutur Aditya Nugraha, pemilik 189 Craft, salah satu perusahaan asal Yogyakarta yang fokus membuat produk office stationary, kitchenware, dan living berbahan kayu.