INDUSTRY.co.id - Jakarta – Terciptanya Casio G-SHOCK dimulai pada tahun 1981 ketika teknisi CASIO yaitu Kikuo Ibe menantang pemikiran awam bahwa jam tangan hanyalah penunjuk waktu yang mudah rusak.
Dibutuhkan dua tahun dan 200 prototipe sebelum G-SHOCK diluncurkan pertama kali di tahun 1983, hingga akhirnya mengalami
proses evolusi tak terbendung dengan konsep Ketangguhan Tanpa Batas (Absolute Toughness).
Advisory Engineer of Product Strategy Planning, Timepiece Product Division, CASIO, Shinji Saito dalam kesempatan bincang-bincang dengan media menjelaskan , G-SHOCK akan memasuki usianya yang ke-35 di tahun 2018. Perkembangan luar biasa teknologi struktur berongga dengan penutup uretan serta serangkaian teknologi penahan guncangan yang dimiliki G-SHOCK selama ini menjadi faktor utama kecintaan konsumen, dan kami sendiri, terhadap jam tangan kokoh ini.
"Popularitasnya dimulai di kalangan pekerja outdoor, namun seiring waktu kecintaan itu tumbuh di antara para penggemar olahraga, pekerja fashion bahkan musisi dan seniman lainnya.” katanya di Jakarta, Jumat (29/9/2017).
Pada saat bersamaan, diluncurkannya seri BIG BANG BLACK di Indonesia. Seri ini merupakan koleksi terbatas dari beberapa model 1 G-SHOCK yang disiapkan khusus untuk merayakan 35 tahun usia G-SHOCK, dan menampilkan warna hitam matte sebagai varian
warna hitam yang merupakan warna simbolis G-SHOCK.
Sentuhan akhir matte pada warna dasar hitam ini didapat melalui teknologi perpaduan beberapa partikel khusus sehingga tercipta warna hitam yang terkesan menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Warna emas yang kontras di lempengan penutup jam diukir dengan logo ulang tahun G-SHOCK ke-35 hasil rancangan Eric Haze, seniman grafis terkemuka di dunia.
Kesungguhan dalam proses awal kreasi G-SHOCK menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Executive Vice President Casio, Hiroshi Nakamura.
“CASIO hadir berkat keyakinan empat Kashio bersaudara dalam menciptakan kalkulator listrik pertama di dunia. Ibe dengan inovasi revolusioner G-SHOCK kembali membuktikan semangat pantang menyerah kami dalam menghadapi berbagai tantangan baru. Seandainya orang-orang tersebut memutuskan mundur dari proses penciptaannya masing-masing, maka kami tidak
mungkin hadir di sini hari ini,” ujarnya.
G-SHOCK akan terus memperluas cakupannya dengan lebih jauh menanamkan nilai-nilai ketangguhan tanpa batas di lebih banyak kalangan generasi muda Indonesia. Jevin Julian dan Muchlis Fachri (Muklay) adalah dua dari generasi muda Indonesia penuh inspirasi yang juga memegang kuat nilai-nilai tersebut. Hasil karya mereka menjadi bukti ketangguhan masing-masing dalam menghadapi berbagai tantangan sekaligus berevolusi.
“Saya tumbuh sebagai pecinta G-SHOCK, dan bangga karena ketangguhan jam tangan saya turut mencerminkan kekuatan tak terkalahkan dari penggunanya. Kebanggaan itupun berlanjut ketika saya memulai karir di musik sebagai pemain drum dan berevolusi menjadi saya yang saat ini." Ungkap Jevin.
"Saya tidak pernah berangan-angan menjadi musisi kenamaan, namun saya memiliki target untuk tidak berhenti menggali potensi yang saya punya, baik itu di bidang beatbox, electronic dance music, ataupun sebagai seorang produser. Siapa yang tahu saya nantinya bisa merambah bidang apa lagi. Saya percaya bahwa hanya saya yang bisa mengatakan kapan saya harus berhenti, dan saya juga yakin akan selalu ada puncak yang lebih tinggi yang bisa diraih,” tambahnya.
Sesi bincang media hari ini dibuka dengan kolaborasi beatbox Jevin Julian dan pembuatan mural logo G-SHOCK oleh Muklay, salah satu bakat seni muda Indonesia dengan berbagai karya yang baru-baru ini diikutsertakan di Bienalle Animamix International 2017.
Perayaan usia G-SHOCK ke-35 nanti juga akan menghadirkan tur Shock the World yang akan dimulai di New York pada 9 November 2017. Tur tersebut akan singgah ke Indonesia tahun 2018, dan didahului dengan We Shock Indonesia pada 9 Desember 2017.