INDUSTRY.co.id - Denpasar- Status Gunung Agung menjadi awas dan wilayah steril yang semula radius 6 kilometer dari puncak gunung itu diperluas menjadi 9 kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer menjadikan masyarakat di lereng gunung tertinggi di Bali itu makin menjauh.
Apabila terjadi erupsi yang menyemburkan abu vulkanis yang sebaran abunya tidak mengarah ke wilayah udara bandara, operasional penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai masih bisa dengan cara menghindari wilayah sebaran.
"Jika masyarakat melihat cuaca cerah, bukan berarti wilayah udara di sekitar bandara steril dari lapisan abu vulkanis apabila dalam kondisi terjadi erupsi dan angin membawa sebaran abu tersebut menuju wilayah udara bandara," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso
Lapisan abu vulkanis dapat membahayakan bagi penerbangan karena mengganggu mesin pesawat dan mengganggu instrumen hingga mengikis badan pesawat udara yang tengah terbang dengan kecepatan tinggi.
Untuk itu, Kementerian Perhubungan tidak mau ambil risiko. Jika arah angin membawa abu vulkanis ke wilayah bandara, bandara Ngurah Rai harus ditutup.
Semua itu sebagai antisipasi dan skenario karena hingga saat ini penerbangan jalur nasional dan internasional masih berjalan normal.
Untuk mendukung kelancaran peralihan penerbangan ke sembilan bandara terdekat dari Bali, pihaknya menyiapkan sekitar 300 unit bus untuk melayani penumpang di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk menempuh jalur darat ke Banyuwangi dan Surabaya (Jawa Timur), Solo (Jawa Tengah), maupun ke Mataram (Nusa Tenggara Barat).
Hal itu sudah dilakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Kota Denpasar, dan Organda, serta Damri.