INDUSTRY.co.id, Jakarta-PT Bank Syariah Nasional (BSN) terus memperlihatkan tren pertumbuhan bisnis yang positif di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian global. Hingga September 2026, BSN membukukan total aset sebesar Rp82,8 triliun atau tumbuh 21,2% secara tahunan (year on year/YoY). Sejalan dengan itu, laba perseroan mencapai Rp735 miliar, meningkat 24,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi pembiayaan yang mencapai Rp64,6 triliun atau meningkat 26,3% YoY. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp65,4 triliun, tumbuh 14,9% secara tahunan.
Capaian ini mencerminkan semakin kuatnya fundamental bisnis BSN setelah resmi beroperasi sebagai bank umum syariah pada Desember 2025 melalui penggabungan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dengan PT Bank Victoria Syariah.
Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan penghimpunan dana yang berjalan beriringan menunjukkan kemampuan perseroan memperkuat fungsi intermediasi sekaligus menjaga momentum ekspansi bisnis. Kinerja tersebut menjadi modal penting bagi BSN untuk menangkap peluang pertumbuhan ekonomi nasional, terutama ketika aktivitas industri mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Momentum tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Industry Award 2026 yang digelar media online INDUSTRY.co.id di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Mengusung tema Driving Sustainable Growth Through Excellence in Governance and Digital Transformation, ajang ini menyoroti pentingnya ketahanan perusahaan, tata kelola yang baik, serta transformasi digital dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
CEO INDUSTRY.co.id sekaligus Ketua Dewan Juri Industry Award 2026, Nandi Nanti, mengatakan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam tujuh bulan sejak Februari 2026, setelah PMI sempat terkontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026.
Menurut Nandi, pemulihan industri tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari kemampuan perusahaan menjaga fundamental bisnis, memperkuat tata kelola, dan mempercepat transformasi teknologi.
Proses penilaian Industry Award 2026 dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni desk research, media monitoring, dan expert judgement. Dari 200 perusahaan yang ditelaah, seleksi mengerucut menjadi 60 perusahaan sebelum ditetapkan para penerima penghargaan berdasarkan sejumlah aspek, antara lain performa bisnis, environmental, social, and governance (ESG), tata kelola perusahaan (GCG), serta transformasi teknologi.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, yang hadir mewakili Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Industri pengolahan nonmigas bahkan mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 5,32%, dengan kontribusi 16,83% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Sektor tersebut juga menyerap hampir 20 juta tenaga kerja dan menyumbang 80,39% terhadap total ekspor nasional selama Januari hingga Agustus 2026.
Emmy menilai penguatan industri nasional membutuhkan dukungan berbagai sektor, termasuk industri jasa keuangan yang berperan menyediakan akses pembiayaan bagi kegiatan produktif. Sinergi antara sektor keuangan dan dunia usaha menjadi penting untuk memperkuat rantai pasok, meningkatkan kapasitas produksi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, pertumbuhan BSN menunjukkan besarnya peluang industri perbankan syariah untuk berkembang seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan pembiayaan masyarakat maupun dunia usaha.
BSN terus memperkuat bisnis melalui pengembangan ekosistem pembiayaan perumahan yang menjadi salah satu kekuatan utama perseroan. Selain itu, perseroan juga memperluas pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai sektor pendukung rantai pasok perumahan.
Strategi tersebut dijalankan melalui penguatan ekosistem bisnis yang melibatkan pengembang perumahan, pemasok bahan bangunan, pelaku usaha, institusi pendidikan, hingga komunitas. Melalui pendekatan ekosistem, BSN tidak hanya mengembangkan pembiayaan, tetapi juga memperluas peluang penghimpunan dana dan transaksi keuangan dari berbagai segmen nasabah.
Dari sisi digitalisasi, BSN juga terus memperkuat layanan perbankan melalui Bale Syariah by BSN. Hingga September 2026, platform tersebut telah memiliki sekitar 258.800 pengguna aktif dengan frekuensi transaksi mencapai 3,84 juta kali. Pertumbuhan penggunaan kanal digital ini menjadi salah satu upaya perseroan meningkatkan kemudahan transaksi, memperluas jangkauan layanan, sekaligus mendukung efisiensi operasional.
Pentingnya transformasi digital juga menjadi salah satu sorotan dalam Industry Award 2026. Emmy menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing.
Berdasarkan capaian program Making Indonesia 4.0, digitalisasi pada perusahaan percontohan National Lighthouse 4.0 bahkan mampu meningkatkan kecepatan masuk ke pasar hingga 60%, produktivitas hingga 110%, serta kinerja finansial hingga 200%. Peningkatan kepuasan pelanggan juga mencapai 60%-70%.
Menurut Emmy, investasi teknologi harus mampu memberikan nilai tambah yang terukur bagi perusahaan. Karena itu, transformasi digital perlu dipandang sebagai investasi yang menghasilkan peningkatan produktivitas dan profitabilitas, bukan sekadar tambahan biaya operasional.
Bagi industri perbankan, transformasi digital menjadi instrumen penting untuk memperkuat proses bisnis, mempercepat layanan, meningkatkan keamanan transaksi, serta menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah bagi nasabah.
Dengan pertumbuhan aset, pembiayaan, dan laba yang terus meningkat, BSN memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan sektor riil sekaligus memperluas inklusi keuangan syariah.
Meski demikian, tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi pertumbuhan pascakonsolidasi, mempertahankan kualitas pembiayaan, memperkuat struktur pendanaan, serta meningkatkan efisiensi operasional di tengah persaingan industri perbankan yang semakin kompetitif.
Momentum pemulihan industri nasional dan penguatan fundamental perbankan menjadi peluang bagi BSN untuk melanjutkan ekspansi secara sehat dan berkelanjutan. Dengan strategi pengembangan ekosistem, penguatan pembiayaan produktif, serta akselerasi digitalisasi, BSN berpeluang memperbesar kontribusinya terhadap perkembangan industri perbankan syariah dan perekonomian nasional.