INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Permintaan listrik Indonesia diperkirakan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 35 tahun ke depan. Studi Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia memproyeksikan konsumsi listrik nasional naik dari 539 terawatt-hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060.
Salah satu pendorong utamanya adalah elektrifikasi rumah tangga. Sekitar 28 persen permintaan listrik diperkirakan berasal dari sektor ini, sementara kendaraan listrik menyumbang sekitar 11 persen. Di antara kebutuhan rumah tangga, konversi kompor LPG ke kompor induksi berpotensi menciptakan permintaan listrik baru terbesar.
Jika program konversi tersebut berjalan penuh, kebutuhan listrik baru diperkirakan mencapai 27,62 hingga 53,43 gigawatt (GW), bergantung pada efisiensi kompor induksi yang digunakan. Temuan ini disampaikan dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026, Selasa (6/10).
“Sekitar 41,46 persen dari total konsumsi energi rumah tangga berasal dari penggunaan LPG. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik, dengan sekitar 77,6 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor,” kata Peneliti Ekonomi Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman.
Konversi ke kompor induksi dinilai berpeluang mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan menghemat devisa. Penghematan subsidi juga berpotensi terjadi jika program menggunakan kompor induksi yang efisien.
Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM Gigih Udi Atmo mengatakan, efisiensi perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan elektrifikasi agar program tersebut mendukung ketahanan energi. Kompor induksi, menurutnya, memiliki efisiensi energi lebih tinggi dibandingkan kompor LPG.
Elektrifikasi transportasi juga berpotensi mengurangi penggunaan bahan bakar impor sekaligus mendorong industri dalam negeri. Studi tersebut memperkirakan setiap tambahan satu juta kendaraan listrik dapat menghemat sekitar 1.250 kiloliter konsumsi bensin per tahun.
Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter atau sekitar 65 persen konsumsi bensin nasional masih harus dipenuhi melalui impor. Sementara itu, pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia berpotensi menciptakan hingga 500 ribu lapangan kerja baru.
Kebutuhan listrik juga tumbuh seiring perkembangan industri dan pusat data. Hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 13,6 GW kapasitas pembangkit listrik captive berdasarkan RUPTL 2025–2034. Adapun permintaan listrik dari pusat data diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,7 GW pada pertengahan 2027, dari 640 megawatt (MW) pada awal tahun ini.
Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma menyebut, sekitar 30 persen anggota organisasinya menargetkan net zero pada 2030. Sementara itu, CEO Climate Group Helen Clarkson menekankan pentingnya pasokan energi hijau bagi perusahaan global. Sekitar 35 persen anggota RE100 diketahui beroperasi di Indonesia.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri mengatakan, peningkatan permintaan listrik perlu diimbangi dengan penyediaan energi yang lebih hijau. PLN menyatakan pengembangan energi surya 100 gigawatt-peak (GWp) akan dilakukan secara bertahap.
“Pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” ujar EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar.
Atas hasil penelitian yang juga didiskusikan bersama oleh Helen Clarkson dari Climate Group dan Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma, PLN menegaskan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat. Termasuk diantaranya lewat pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap.
”Yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” kata EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar.
“PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap," tambah Tri Hardimasyar.