INDUSTRY.co.id - TAPANULI SELATAN — Kebutuhan listrik yang terus meningkat mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Di Sumatera Utara, PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru dengan total kapasitas 510 megawatt (MW).

PLTA Batangtoru memiliki empat unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 127,5 MW. Pembangkit yang memanfaatkan potensi Sungai Batangtoru tersebut dikembangkan sebagai bagian dari sistem kelistrikan Sumatra sekaligus menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional.

Kehadiran PLTA Batangtoru tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas pembangkitan berbasis energi terbarukan, tetapi juga memperkuat fleksibilitas sistem kelistrikan. Pembangkit ini dirancang dapat merespons kebutuhan sistem dengan cepat ketika terjadi gangguan jaringan.

Salah satu kemampuan yang menjadi keunggulan teknis PLTA Batangtoru adalah fitur Black Start. Kemampuan tersebut memungkinkan pembangkit melakukan pemulihan dan pengoperasian secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan listrik dari luar untuk membantu menghidupkan kembali sistem kelistrikan yang mengalami padam.

“PLTA Batangtoru hadir untuk menambah pasokan energi terbarukan bagi sistem kelistrikan Sumatra. Dengan memanfaatkan potensi air yang dimiliki daerah ini sendiri, kami berharap dapat berkontribusi pada ketahanan energi sekaligus transisi menuju energi yang lebih bersih,” ujar Direktur Teknik PT NSHE Erwin Ansori.

Dari sisi operasi, PLTA Batangtoru menggunakan sistem peaker-follower dengan skema daily pondage atau waduk harian. Skema tersebut memungkinkan pembangkit menyesuaikan produksi listrik dengan kebutuhan sistem, terutama ketika permintaan meningkat pada periode beban puncak.

Pembangkit juga memiliki kemampuan ramping rate yang relatif tinggi dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Artinya, pasokan listrik dapat dinaikkan dalam waktu relatif cepat ketika dibutuhkan sistem. Fleksibilitas ini menjadi semakin penting di tengah kebutuhan menjaga stabilitas jaringan sekaligus mendorong pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit fosil.

Berbeda dengan waduk tahunan, sistem daily pondage tidak dirancang untuk menampung air dalam volume besar dalam jangka panjang. Air digunakan secara harian untuk pembangkitan dan setelah melewati mesin pembangkit di Power House kembali dialirkan ke Sungai Batangtoru.

Pengoperasian tersebut dilakukan berdasarkan prosedur operasi dan pemantauan kondisi debit Sungai Batangtoru. Menurut perusahaan, pola tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan kawasan hilir.

Dari sisi konstruksi, PLTA Batangtoru juga mengandalkan sejumlah rekayasa untuk menyesuaikan pembangunan dengan karakteristik kawasan. Salah satunya adalah pembangunan head race tunnel atau saluran air bawah tanah sepanjang sekitar 12,2 kilometer dengan diameter 8,8 meter.

Penggunaan saluran bawah tanah tersebut memungkinkan pengurangan bukaan lahan di permukaan. Sistem pembangkit juga didukung sejumlah instalasi utama yang saling terintegrasi, mulai dari bendungan dan waduk, Surge Tank, Power House, Switchyard, hingga Transmission Line.

Bendungan utama PLTA Batangtoru menggunakan tipe Concrete Gravity Dam. Perencanaan bendungan dan instalasi utama dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geologi, geoteknik serta penilaian bahaya kegempaan atau Seismic Hazard Assessment.

Tenaga Ahli PT NSHE Hadi Susilo mengatakan pemilihan teknologi dan desain bangunan proyek dilakukan berdasarkan kajian teknis terhadap karakter kawasan serta pola debit banjir Sungai Batangtoru.

“Pilihan teknologi dalam merencanakan setiap bangunan proyek PLTA Batangtoru kami rancang berdasarkan kajian teknis karakter kawasan dan pola debit banjir Sungai Batangtoru, sesuai dengan ketentuan standar keamanan yang berlaku,” ujar Hadi.

Dia menambahkan, desain bendungan beserta waduk dan bangunan pelengkapnya telah disusun sesuai ketentuan keselamatan bendungan. Desain tersebut juga telah mendapat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum berdasarkan rekomendasi teknis Komisi Keamanan Bendungan (KKB) melalui Kantor Balai Teknik Bendungan Kementerian Pekerjaan Umum.

Selain pembangkit, pengembangan proyek juga mencakup infrastruktur transmisi untuk menghubungkan PLTA Batangtoru dengan sistem kelistrikan Sumatra. Jaringan transmisi bertegangan 275 kilovolt (kV) menjadi salah satu infrastruktur penting untuk menyalurkan listrik dari pembangkit ke sistem.

Pembangunan jaringan tersebut mencakup pemasangan menara, persiapan konduktor serta pembangunan berbagai infrastruktur pendukung di sepanjang jalur transmisi.

Di tengah pembangunan kapasitas EBT, PT NSHE juga menempatkan aspek keselamatan sebagai bagian dari pengembangan proyek. Perusahaan menyatakan standar keselamatan diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi area kerja, kesiapan pekerja dan peralatan serta prosedur keselamatan yang berlaku.

Keandalan bendungan dan bangunan pelengkap juga dipantau menggunakan berbagai instrumen, antara lain Extensometer, Piezometer dan Strong Motion Accelerograph. Instrumen tersebut digunakan untuk memperoleh data mengenai kondisi instalasi yang selanjutnya menjadi bagian dari evaluasi keamanan bendungan.

Pemantauan tersebut dilengkapi sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang telah diuji dan disosialisasikan kepada masyarakat di sekitar kawasan.

“Keselamatan menjadi bagian dari setiap tahapan pekerjaan. Kesiapan instalasi kami ukur dari hasil pengujian dan data pemantauan yang dilakukan secara berkala,” kata Manajer Kualitas PT NSHE Zul Fadli.

Selain aspek teknis dan keselamatan, PT NSHE menyatakan pengembangan PLTA Batangtoru juga disertai pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan dokumen lingkungan yang berlaku.

Dengan kapasitas 510 MW dan kemampuan merespons kebutuhan sistem secara cepat, PLTA Batangtoru diposisikan sebagai salah satu tambahan sumber listrik berbasis energi terbarukan untuk sistem Sumatra. Proyek ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan EBT tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga kebutuhan menghadirkan sumber listrik yang fleksibel dan mampu menopang keandalan jaringan.

PT NSHE berharap pemanfaatan potensi energi air Sungai Batangtoru dapat memberikan kontribusi terhadap transisi energi sekaligus memenuhi kebutuhan listrik yang terus berkembang di Sumatra dan Indonesia.