INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Kinerja industri manufaktur nasional pada September 2026 masih ekspansi di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat 51,93, melambat 0,37 poin dibandingkan Agustus yang sebesar 52,30.

"Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik, Kemenperin menyampaikan industri dalam negeri pada September 2026 masih ekspansi atau IKI di atas 50. Kinerja bertumpu pada peningkatan permintaan baru. Namun variabel produksi sedikit menurun dan stok semakin menumpuk," kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam Rilis IKI September 2026 di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Menurut Febri, salah satu penyebab produksi menurun karena meningkatnya biaya logistik pengiriman produk untuk ekspor dan pasar domestik. Selain itu, industri masih wait and see dinamika pasar domestik sehingga menunda pengiriman barang dari gudang.

Selain logistik, perubahan iklim atau El Nino juga berdampak pada industri. Kenaikan suhu ikut meningkatkan permintaan produk minuman dan utilisasinya, sehingga subsektor industri minuman mencapai IKI tertinggi dibanding 23 subsektor lainnya. Kemenperin juga mendapat laporan pasokan air terkait proses produksi dan pengiriman bahan baku melalui sungai mulai dirasakan industri.

"Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah memerintahkan jajarannya memitigasi dampak El Nino pada industri baik terhadap bahan baku, energi, pekerja, pergudangan atau pengiriman barang sehingga kinerja rantai pasok selama musim ini tidak terganggu," ujar Febri.

Berdasarkan 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 15 subsektor ekspansi, sedangkan delapan subsektor kontraksi. Subsektor yang ekspansi berkontribusi 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas Triwulan II 2026.

Dua subsektor dengan IKI tertinggi pada September 2026 adalah industri minuman serta industri alat angkutan lainnya. Sementara delapan subsektor yang kontraksi meliputi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, barang dari kayu dan gabus, industri kertas, industri pencetakan, industri karet dan plastik, industri komputer dan elektronik, industri peralatan listrik, serta industri mesin.

Dari sisi variabel pembentuk IKI, indeks pesanan September 2026 di level 53,40, naik 0,27 poin dari bulan sebelumnya. Indeks produksi 53,78, masih ekspansi meski turun 1,32 poin. Indeks persediaan 45,45, masih kontraksi dan turun 0,57 poin.

"Pesanan masih ekspansif dan bahkan meningkat. Artinya permintaan terhadap produk industri masih ada. Namun pelaku industri melakukan penyesuaian terhadap produksi dan persediaannya," ujar Febri.

Berdasarkan orientasi pasar, IKI industri berorientasi ekspor pada September 2026 di level 52,60, melambat 0,49 poin dari Agustus 53,09. Sementara IKI berorientasi pasar domestik 50,94, melambat 0,19 poin dari 51,13. Meski melambat, keduanya masih ekspansi.

Menurut Febri, perkembangan itu menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan pasar domestik dan ekspor. Sejumlah subsektor masih menghadapi tekanan persaingan produk impor, kenaikan biaya produksi, dan dinamika perdagangan global.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen ILMATE Feby Setyo Hariyono menyampaikan, industri alat angkutan lainnya (KBLI 30) menunjukkan performa menggembirakan. Subsektor ini menjadi penyumbang ekspansi terbesar kedua pada IKI September 2026, dengan pesanan dan produksi ekspansi.

Salah satu penopangnya industri sepeda motor. Sepanjang Januari-Agustus 2026, penjualan domestik mencapai 4,36 juta unit atau naik 2,16 persen dibanding periode sama tahun lalu.

"Tidak hanya domestik, kinerja ekspornya juga positif. Secara kumulatif, ekspor sepeda motor CBU meningkat 18,19 persen, sedangkan ekspor komponen tumbuh 28,87 persen," jelas Feby.

Di sektor agro, Sekretaris Ditjen Industri Agro Yulia Astuti mengatakan sejumlah subsektor agro masih ekspansi, sementara tiga kelompok kontraksi karena faktor cuaca dan perubahan iklim.

Di sektor IKFT, Sekretaris Ditjen IKFT Putu Nadi Astuti menyampaikan lima subsektor ekspansi pada September 2026, yaitu tekstil, pakaian jadi, bahan kimia, farmasi dan obat tradisional, serta barang galian bukan logam.