INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan green energy dan digital development menjadi twin engine atau mesin ganda pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

"Twin engine antara green energy dan digital development, dan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah energi di negeri sendiri," ujar Menko Airlangga dalam Seminar Nasional Investortrust bertema Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/09/2026).

Airlangga menyebut di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif 5,45% (c-to-c) di semester I-2026 dengan inflasi Agustus 3,19% yoy.

Untuk mencapai pertumbuhan 6% pada 2027, investasi perlu tumbuh 8-9% dengan kebutuhan penanaman modal Rp2.218 - Rp2.258 triliun. Kebutuhan listrik diproyeksikan 700-800 terawatt-jam pada 2030.

Presiden Prabowo sendiri mendorong peningkatan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt peak (GWp) dalam beberapa tahun ke depan berbasis solar panel dan battery storage system.

"Tentu kalau listrik berbasis pada solar panel dan baterai storage system, tentunya emisinya kan nol. Jadi kita menurunkan target daripada angka emisi mendekati nol di 2060, ini bisa maju 10-15 tahun," kata Airlangga.

3 Poin Kunci Menko Airlangga:

1. Infrastruktur Listrik - Pemerintah merencanakan pembangunan jaringan transmisi *47.758 kilometer-sirkuit* untuk pasokan andal dan fleksibilitas industri. Elektrifikasi ditarget di atas 99% dan indeks ketahanan energi naik menjadi 7,13. Program Listrik Desa telah selesaikan 1.505 lokasi di 2025 dan target 4.390 lokasi di 2026.

2. Hilirisasi Mineral Kritis - Kekayaan nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, batu bara, dan pasir silika jadi modal. Hilirisasi ditopang energi bersih akan dongkrak nilai tambah. Ekosistem kendaraan listrik potensial nilai tambah 67 kali lipat dengan permintaan USD5,91 triliun di 2045. Minat Uni Eropa, AS, dan Kanada di mineral kritis tinggi.

"Jadi inilah the golden moment buat Indonesia untuk bisa dikembangkan. Dan kita memiliki pasir silika yang jumlahnya besar, dan ini bisa mendorong untuk kita mempunyai tuan rumah untuk solar panel," tambah Airlangga.

3. Pembiayaan Hijau - Dorong green bonds, blended finance, JETP, dan AZEC untuk percepat proyek energi bersih. Serta penguatan SDM lewat Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan Program Vokasi untuk kebutuhan sektor ekonomi hijau.