INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah mengawali perdagangan pekan ini dalam tekanan. Sinyal diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, risiko serangan balasan Iran serta gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi membuat ruang penurunan harga tetap terbatas.
Pada Senin (21/9/2026), sentimen pasar minyak cenderung bearish setelah Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pada 18–28 September.
Sinyal tersebut menjadi katalis yang menekan harga minyak karena pasar mulai memperhitungkan peluang meredanya ketegangan antara Washington dan Teheran. Trump juga menyebut AS masih menjalin komunikasi dengan kelompok Houthi di Yaman setelah serangan rudal balistik yang menargetkan Arab Saudi.
Menurut Trump, kelompok Houthi telah sepakat untuk menghindari pertempuran dengan pasukan AS. Perkembangan ini turut mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
Harapan terhadap stabilitas kawasan semakin menguat setelah Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani menyerukan kerja sama negara-negara Teluk untuk memulihkan stabilitas regional. Qatar juga menyebut komunikasi aktif antara AS dan Iran masih berlangsung.
Al-Thani bahkan mendorong pembentukan kerangka kerja keamanan kawasan yang melibatkan negara-negara Teluk dan Iran. Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut berpotensi mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan produksi maupun distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat pasokan energi dunia.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya menghapus risiko eskalasi. Komando pusat militer Iran memperingatkan bahwa serangan baru akan memicu pembalasan berkelanjutan terhadap instalasi dan kepentingan militer AS.
Iran juga memperingatkan negara-negara yang menjadi sekutu regional Washington bahwa keterlibatan mereka dapat membuat negara tersebut dianggap sebagai pihak dalam konflik.
Peringatan Iran tersebut menjadi katalis yang berpotensi menahan pelemahan harga minyak. Terlebih, Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keamanan mengenai potensi eskalasi tak terduga di Timur Tengah, termasuk kemungkinan gangguan penerbangan dan penutupan wilayah udara.
Risiko terhadap pasokan minyak juga mulai terlihat dari sisi Arab Saudi. Perusahaan minyak negara Saudi Aramco dilaporkan telah memberi tahu setidaknya dua pelanggan kilang di Eropa bahwa mereka tidak akan menerima pasokan minyak mentah pada bulan depan menyusul serangan terhadap jalur pipa utama Arab Saudi yang mengarah ke Laut Merah.
Aramco disebut tengah berupaya mengoperasikan kembali sebagian jalur pipa Timur-Barat dalam beberapa hari dan menargetkan pemulihan kapasitas penuh dalam waktu sekitar enam minggu.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga minyak berada dalam tarik-menarik antara dua sentimen utama. Di satu sisi, peluang diplomasi AS-Iran dapat menurunkan premi risiko geopolitik. Di sisi lain, ancaman serangan dan potensi gangguan infrastruktur energi dapat kembali mengangkat kekhawatiran terhadap pasokan.
Dari sisi teknikal, harga minyak berpotensi menguji area resistance terdekat di level US$96 per barel. Sementara itu, apabila tekanan jual kembali menguat akibat katalis negatif dari sisi geopolitik maupun fundamental, harga berpotensi bergerak menuju support di level US$91 per barel.
Dengan demikian, arah harga minyak pada awal pekan ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan komunikasi AS-Iran dan kondisi infrastruktur energi di kawasan Teluk. Pasar kini tidak hanya mencermati potensi deeskalasi konflik, tetapi juga menghitung seberapa besar gangguan pasokan yang dapat terjadi apabila ketegangan kembali meningkat.