INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kebiasaan menjaga kesehatan gigi sering kali berangkat dari hal sederhana: menyikat gigi, mengurangi makanan manis, dan memeriksakan gigi secara berkala. Namun, perkembangan ilmu kesehatan gigi dan mulut kini membawa pemahaman yang lebih luas mengenai apa yang terjadi di dalam rongga mulut.
Salah satunya adalah peran microbiome mulut, yakni komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam rongga mulut dan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistemnya.
Pemahaman tersebut menjadi fokus Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 yang kembali digelar oleh Unilever Indonesia melalui Pepsodent bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI).
Memasuki penyelenggaraan yang ke-17, BKGN tidak hanya menekankan pentingnya gigi bersih dan bebas dari masalah, tetapi juga memperkenalkan pendekatan preventif melalui upaya menjaga keseimbangan microbiome mulut.
Program yang berlangsung sejak 2010 tersebut resmi dimulai melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gigi bagi 384 siswa SDN Menteng 01 Jakarta. Selanjutnya, rangkaian BKGN 2026 akan berlangsung pada Oktober hingga Desember di berbagai wilayah Indonesia.
Selama ini, bakteri kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus sepenuhnya dihilangkan untuk menjaga kebersihan mulut. Padahal, tidak semua mikroorganisme memiliki dampak buruk.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., menyebut hasil pemeriksaan menunjukkan sekitar 4 dari 10 anak Indonesia yang berada di sekolah mengalami gigi berlubang.
Kondisi tersebut, menurut Dante, tidak seharusnya baru mendapat perhatian ketika anak mulai merasakan sakit. Pemeriksaan gigi perlu dilakukan secara rutin, setidaknya setiap enam bulan, untuk mendeteksi masalah sejak dini.
“Pemeriksaan gigi sudah masuk ke dalam program Cek Kesehatan Gratis, dan pemeriksaan ini harus diikuti oleh semua anak sekolah. Waktu untuk memeriksakan gigi yang baik bukan ketika kita menderita sakit gigi, tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan,” ujar Dante saat peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Dante juga mendorong sekolah mengambil peran lebih aktif melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS), termasuk membantu mengenali tanda-tanda awal gigi bermasalah pada siswa. Menurutnya, persoalan gigi tidak berhenti pada kesehatan rongga mulut, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Memahami Keseimbangan Microbiome Mulut
Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., Ketua AFDOKGI, menjelaskan bahwa rongga mulut merupakan salah satu ekosistem mikroba terbesar dalam tubuh manusia dengan lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut microbiome mulut.
Di dalamnya terdapat bakteri baik maupun bakteri yang berpotensi merugikan. Karena itu, perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak semata-mata bertujuan menghilangkan bakteri sebanyak mungkin, melainkan menjaga agar komunitas mikroorganisme tersebut tetap berada dalam kondisi seimbang.
Ketika keseimbangan itu terganggu atau mengalami dysbiosis, kelompok bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan berkontribusi terhadap berbagai persoalan, mulai dari plak dan karies hingga gangguan pada gusi serta bau mulut.
Pola hidup sehari-hari turut berperan dalam kondisi tersebut. Data yang dipaparkan dalam BKGN 2026 menunjukkan 47,5% masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Sementara itu, meski 95,6 persen masyarakat menyatakan menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang tepat.
Persoalan lainnya terlihat dari kebiasaan mencari pertolongan medis. Saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2% masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun terakhir. Secara keseluruhan, 57% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.
Pemeriksaan Rutin dan Kebiasaan Sehari-hari
Bagi Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), Ketua ARSGMPI, menjaga keseimbangan microbiome tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan sehari-hari.
Selain menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan cara yang tepat, masyarakat dianjurkan membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, mencukupi kebutuhan cairan, menghindari rokok, mengelola stres, serta memiliki waktu tidur yang cukup.
Pemeriksaan ke dokter gigi secara berkala, setidaknya enam bulan sekali, juga diperlukan agar gangguan kesehatan gigi dan mulut dapat diketahui dan ditangani lebih dini.
BKGN 2026 juga membawa persoalan akses layanan kesehatan gigi ke dalam rangkaian kegiatannya. Bersama AFDOKGI dan ARSGMPI, program ini akan menjangkau 29 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara bersama PB PDGI, edukasi akan difokuskan di enam kota/kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah wilayah yang terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.
drg. Tari Tritarayati, SH., MH.Kes, Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menerangkan, "Jawa Barat menjadi salah satu prioritas karena selain memiliki populasi penduduk tertinggi di Indonesia, masyarakatnya masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan gigi dan mulut. Data menunjukkan, 63,4% masyarakat Jawa Barat mengalami permasalahan gigi dan mulut, dan 89,9% dari mereka tidak pernah mengunjungi dokter gigiselama satu tahun terakhir.”
Tantangan serupa terlihat di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Masing-masing 55,6% dan 49,4% masyarakat di kedua wilayah tersebut masih mengalami masalah gigi dan mulut. Tingginya angka masyarakat yang tidak mengunjungi dokter gigi juga berkaitan dengan persoalan geografis, jauhnya jarak layanan kesehatan, transportasi, hingga ketersediaan tenaga dokter gigi.
Karena itu, BKGN 2026 tidak hanya menyasar fasilitas pendidikan kedokteran gigi dan masyarakat umum. Program ini juga memperluas edukasi ke pesantren dan komunitas ibu yang dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan kesehatan di lingkungan masing-masing.
Pesan mengenai keseimbangan microbiome mulut juga mendapat perhatian dari Armand Maulana dan Gusti Hendy, personel band GIGI yang turut hadir dalam peluncuran BKGN 2026.
Keduanya mengaku mendapatkan perspektif baru bahwa menjaga kesehatan mulut bukan berarti memusuhi seluruh bakteri yang ada di dalamnya. Pemahaman tersebut kemudian diharapkan dapat mereka teruskan kepada masyarakat melalui keterlibatan GIGI dalam sejumlah kegiatan BKGN.
Sehingga, edukasi kesehatan gigi hanya akan memberikan dampak jangka panjang ketika diterjemahkan menjadi kebiasaan. Setelah memperoleh edukasi dan pemeriksaan melalui BKGN, masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui perawatan rutin di rumah.
Sejalan dengan fokus tersebut, Pepsodent memperkenalkan Pepsodent Pro.Care, pasta gigi pertama dari Pepsodent yang menggunakan teknologi Microbiome Active. Teknologi tersebut memanfaatkan One Trillion Active Ions yang dirancang untuk membantu menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung bakteri baik dalam menjaga keseimbangan microbiome mulut tetap terjaga.
BKGN 2026 dengan tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat – Perlindungan Mulut 24/7 untuk Masa Depan Senyum Indonesia” pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas dari sekadar menjaga gigi tetap bersih.
“Kami harap seluruh rangkaian kegiatan BKGN 2026 dapat meningkatkan pemahamanmasyarakat mengenai pentingnya keseimbangan microbiome mulut, yang kemudianbertransformasi menjadi rutinitas menyikat gigi sehari-hari yang mampu memberikanperlindungan ekstra bagi senyum keluarga Indonesia,” ujar drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia.
Di balik senyum yang sehat, terdapat kebiasaan yang dibangun sejak dini, akses terhadap layanan kesehatan, serta pemahaman bahwa kesehatan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.