INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman kesehatan yang kerap datang tanpa gejala. Menjelang World Heart Day 2026 pada 29 September, kesadaran masyarakat untuk mengenali faktor risiko penyakit jantung kembali menjadi sorotan, terutama karena banyak kondisi kesehatan tidak terdeteksi sejak dini.

Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat” yang mengajak masyarakat lebih waspada terhadap tanda dan risiko penyakit kardiovaskular yang sering terlewatkan.

Bagi OMRON Healthcare Indonesia, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar tidak baru memperhatikan kesehatan ketika penyakit sudah muncul. Langkah preventif dinilai dapat dimulai dengan mengenali faktor risiko, menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemantauan kondisi tubuh secara rutin.

Melalui kampanye “Keep On, Life On”, OMRON Healthcare Indonesia mengajak masyarakat membangun kebiasaan sehat sekaligus tetap menjalani aktivitas yang bermakna bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

“Kami percaya bahwa menjaga kesehatan merupakan perjalanan yang dilakukan setiap hari, bukan hanya ketika seseorang membutuhkan perawatan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risiko, membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan, dan memiliki akses terhadap solusi yang dapat membantu mereka melakukan pemantauan secara rutin,” kata Direktur OMRON Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe di Jakarta, Jumat (11/9/2026). 

Menurut dia, momentum World Heart Day dapat menjadi pengingat agar masyarakat mengambil langkah lebih proaktif dalam menjaga kondisi kesehatan.

“Melalui momentum World Heart Day ini, kami ingin mendorong lebih banyak orang untuk mengambil langkah proaktif dalam menjaga kesehatan, sehingga mereka dapat terus menjalani kehidupan dan melakukan hal-hal yang berarti bagi mereka,” lanjut Tomoaki.

Urgensi pemantauan kesehatan tersebut tercermin dari data nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Namun, berdasarkan diagnosis dokter, angkanya hanya 8,6%.

Kesenjangan lebih dari 20% tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi. Kondisi ini menjadi persoalan serius karena hipertensi kerap tidak menimbulkan gejala, meski dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung maupun stroke.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan hipertensi tidak sekadar persoalan tekanan darah tinggi, tetapi merupakan salah satu faktor risiko penting dalam berbagai gangguan kardiovaskular, termasuk atrial fibrillation (AFib).

“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” ujar Decsa.

Menurut dia, AFib membuat detak jantung menjadi tidak teratur dan dapat mengganggu aliran darah di dalam jantung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang apabila terbawa ke otak berpotensi menyebabkan stroke.

“Karena itu, pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular dan mengurangi risiko komplikasi,” katanya.

Kaitan antara hipertensi, AFib dan stroke juga tercermin dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Studi terhadap 5.070 peserta menunjukkan hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sedangkan AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat.

Risiko tersebut menjadi semakin relevan karena seseorang dapat merasa sehat dan tetap aktif tanpa mengetahui kondisi kardiovaskularnya. Hal itu juga dirasakan Iwet Ramadhan, Business Owner, Co-Founder DVET Siaran Pagi IP, Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia sekaligus OMRON Brand Ambassador, yang merupakan penyintas stroke.

“Saya pernah mengalami sendiri bagaimana sebuah masalah kesehatan bisa mengubah hidup kita. Setelah mengalami stroke, saya sadar bahwa merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti kita sudah mengetahui kondisi kesehatan kita secara keseluruhan,” ujar Iwet.

Pengalaman tersebut membuat Iwet lebih konsisten memperhatikan kondisi tubuh dan terlibat dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan jantung melalui Yayasan Jantung Indonesia.

“Saya berharap orang lain tidak perlu menunggu mengalami hal yang sama untuk mulai lebih peduli terhadap kesehatannya,” katanya.

Di sisi lain, gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi pencegahan. Aktor dan presenter sekaligus OMRON Brand Ambassador Dion Wiyoko menilai kebiasaan sehat tidak harus dilakukan secara ekstrem, tetapi perlu dibangun secara realistis agar dapat dijalankan dalam jangka panjang.

“Menurut saya, hidup sehat itu tidak harus selalu berat atau ekstrem. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan aktivitas yang kita nikmati dan menjadikannya bagian dari keseharian,” kata Dion.

Menurut Dion, menjaga kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap hadir bagi keluarga dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Karena itu, saya ingin tetap sehat dan aktif, agar bisa terus mendampingi keluarga sekaligus berkontribusi kepada masyarakat dengan cara yang saya bisa,” ujarnya.

OMRON menilai pola hidup sehat perlu dilengkapi dengan pemantauan kondisi kesehatan secara berkala. Pasalnya, tekanan darah maupun irama jantung dapat berubah tanpa selalu disertai keluhan yang mudah dikenali.

Dalam kampanye “Keep On, Life On”, OMRON juga memperkenalkan teknologi ECG atau elektrokardiogram (EKG) untuk membantu masyarakat memantau irama jantung dan mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk AFib.

Solusi ECG portabel tersebut memungkinkan masyarakat melakukan perekaman irama jantung di rumah, termasuk ketika gejala muncul. Kemampuan ini dapat membantu mengenali AFib paroksismal yang muncul dan menghilang secara berkala, sekaligus memberikan informasi tambahan yang dapat dibawa saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Dua perangkat yang diperkenalkan yakni OMRON Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B untuk perekaman ECG satu lead serta OMRON Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T yang merekam enam sadapan untuk memberikan gambaran aktivitas listrik jantung yang lebih luas.

Meski demikian, hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukan merupakan diagnosis medis. Hasil pemantauan tetap perlu dievaluasi tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi pasien.

Selain pemantauan irama jantung, masyarakat juga didorong menggunakan alat pengukur tekanan darah yang akurat dan tervalidasi secara klinis serta melakukan pengukuran secara rutin sesuai petunjuk penggunaan.

Bagi OMRON, peningkatan kesadaran dan pemantauan kesehatan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit kardiovaskular. Dengan mengenali risiko lebih awal, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menjaga kesehatan, tetapi juga mempertahankan produktivitas dan menjalani aktivitas yang bermakna dalam jangka panjang.