INDUSTRY.co.id - BOGOR – PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) semakin agresif memperluas pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di luar Pulau Jawa. Hingga memasuki usia ketujuh tahun, perusahaan penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pindar tersebut telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp7,8 triliun.

Pembiayaan tersebut telah disalurkan kepada sekitar 5,3 juta akun peminjam di berbagai wilayah Indonesia. Menariknya, sekitar 63% portofolio merupakan peminjaman kembali, sedangkan 37% berasal dari peminjam baru.

Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan pertumbuhan bisnis perusahaan tetap diarahkan dengan menjaga kualitas pembiayaan serta tata kelola perusahaan. Menurut dia, ekspansi penyaluran pembiayaan harus berjalan beriringan dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan kepatuhan terhadap regulasi.

"Perjalanan Samir dari tahun ke tahun terus dijaga kestabilannya dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan menjalankan keberlangsungan bisnis usahanya dengan patuh pada regulasi sehingga setiap pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang berlangsung setiap tahunnya selalu disertai dengan kualitas dari pembiayaan itu sendiri," kata Handy di The Michael Resort, Bogor, Jumat (11/9/2026).

Dia menambahkan, kualitas portofolio Samir tercermin dari tingkat kredit bermasalah yang relatif terjaga. Rasio tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 Samir berada di kisaran 2%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang mencapai sekitar 5%.

Di sisi lain, Samir mulai menggeser fokus ekspansinya dengan memperbesar penetrasi pembiayaan di luar Jawa. Sumatra menjadi wilayah luar Jawa dengan kontribusi terbesar terhadap penyaluran pembiayaan kumulatif Samir, yakni sekitar 16%.

Kontribusi pembiayaan selanjutnya tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Sementara itu, kontribusi Papua dan Maluku masing-masing telah menembus lebih dari 1%.

"Gambaran peningkatan dan pemerataan di luar Pulau Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur semakin menunjukkan komitmen Samir untuk mendukung pemerataan ekonomi nasional dan menciptakan inklusi keuangan semakin realistis," ujar Handy.

Ekspansi tersebut sekaligus membidik celah pembiayaan UMKM yang masih besar. Handy menyebut terdapat sekitar Rp1.650 triliun kebutuhan pembiayaan UMKM yang belum terpenuhi, khususnya bagi pelaku usaha yang belum terlayani perbankan konvensional.

"Hadirnya Samir, bukan sekadar platform yang memberikan pembiayaan saja karena ada sekitar Rp1.650 triliun kebutuhan pembiayaan yang belum terpenuhi bagi UMKM yang tidak terlayani perbankan konvensional dan kekosongan pasokan modal usaha inilah yang diharapkan dapat diisi oleh ekosistem pembiayaan digital, termasuk salah satunya dari Samir sebagai pindar yang sudah berizin dan diawasi oleh OJK," kata Handy.

Peluang tersebut tercermin dari kinerja bisnis Samir sepanjang delapan bulan pertama 2026. Perseroan mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp3 triliun pada Januari-Agustus 2026. Nilai tersebut melonjak 63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penyaluran juga diikuti dengan kenaikan jumlah peminjam. Hingga Agustus 2026, jumlah peminjam Samir tumbuh sekitar 60% secara tahunan.

Dari sisi karakteristik pengguna, kelompok usia 35-54 tahun masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 55%. Berikutnya peminjam berusia 19-34 tahun mencapai 41%, sedangkan peminjam berusia di atas 54 tahun sebesar 4%.

Komposisi gender peminjam juga relatif berimbang. Peminjam laki-laki tercatat sebesar 55%, sementara perempuan mencapai 45%.

"Kami melihat pertumbuhan pun tetap stabil di profil pengguna Samir yang secara rasio usia peminjam di kisaran 35-54 tahun sebesar 55 persen, disusul yang berusia 19-34 tahun sebesar 41 persen, dan selebihnya berada di usia lebih dari 54 tahun yang mencapai 4 persen. Sedangkan dari persentase gender peminjam, saat ini tidak terlalu jauh jaraknya, di mana untuk peminjam laki-laki berada di 55 persen dan perempuan 45 persen," jelas Handy.

Untuk memperkuat ekosistem pembiayaan digital, Samir juga mengklaim aktif berkolaborasi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas literasi dan edukasi keuangan masyarakat serta UMKM, termasuk meningkatkan pemahaman mengenai perbedaan layanan pindar legal dengan pinjaman online ilegal. Edukasi juga menyasar risiko penggunaan layanan pembiayaan digital, keamanan transaksi, potensi penipuan, hingga perlindungan data.

Dengan pertumbuhan pembiayaan yang mencapai 63% sepanjang Januari-Agustus 2026 dan ekspansi yang semakin mengarah ke luar Jawa, Samir melihat pembiayaan digital memiliki ruang yang masih lebar untuk mengambil peran dalam mempersempit kesenjangan akses modal UMKM. Tantangannya kini bukan sekadar mengejar pertumbuhan penyaluran, tetapi menjaga kualitas portofolio ketika ekspansi mulai masuk ke wilayah dan segmen peminjam yang lebih luas.