INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Sektor pariwisata Indonesia masih menunjukkan kinerja positif hingga Juli 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, sejumlah indikator utama pariwisata nasional justru mencatat pertumbuhan, mulai dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), hingga tingkat okupansi hotel.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut menjadi alasan untuk tetap optimistis, meski pemerintah masih menghadapi dinamika global dan berbagai tantangan di dalam negeri.

Hal itu disampaikan Widiyanti saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (9/9/2026), didampingi Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.

“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Menpar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan. Angka tersebut tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan terutama terlihat dari sejumlah pasar utama. Kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya meningkat 8,69 persen, Asia Tenggara tumbuh 7,32 persen, sementara pasar Oseania naik 7,26 persen.

Seiring membaiknya kondisi di Timur Tengah, kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut juga kembali menunjukkan pertumbuhan positif. Adapun pasar Eropa yang masih mengalami kontraksi mulai memperlihatkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Widiyanti, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan pemerintah bersama para pemangku kepentingan mulai memberikan hasil.

Devisa Pariwisata Tembus Rp145 Triliun

Pertumbuhan jumlah wisatawan juga diikuti peningkatan nilai ekonomi yang dihasilkan sektor pariwisata.

Pada semester I 2026, devisa pariwisata Indonesia tercatat mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp145,13 triliun. Nilai tersebut tumbuh 2,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 8,20 miliar dolar AS atau sekitar Rp134,68 triliun.

Sementara pada triwulan II 2026, devisa pariwisata mencapai 4,39 miliar dolar AS atau setara Rp76,99 triliun. Nilai tersebut relatif stabil dibandingkan triwulan II tahun sebelumnya.

“Artinya, di tengah dinamika geopolotik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Widiyanti.

Ia menekankan bahwa manfaat pariwisata tidak berhenti pada transaksi wisatawan. Pengeluaran untuk akomodasi, kuliner, transportasi hingga pembelian produk UMKM ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah tujuan wisata.

“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” katanya.

Kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional juga tercermin dalam Tourism Satellite Account yang disusun BPS. Pada 2025, kontribusi langsung pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 4,78 persen atau sekitar Rp1,139 triliun, meningkat dibandingkan Rp1,057 triliun pada 2024.

Pertumbuhan itu ditopang tingginya mobilitas wisatawan nusantara, peningkatan kunjungan wisman, konektivitas yang semakin baik, serta bertambahnya penyelenggaraan event nasional dan internasional.

“Angka ini mencerminkan nilai ekonomi yang tercipta dari aktivitas wisata yang menggerakan usaha, membuka peluang kerja, dan memperluas manfaat bagi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Menpar.

Wisnus Masih Menjadi Penopang

Wamenpar Ni Luh Puspa mengatakan perjalanan wisatawan nusantara menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

Sepanjang Januari-Juli 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 737,85 juta perjalanan. Angka itu tumbuh 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri justru mengalami penurunan. Secara kumulatif, periode Januari-Juli 2026 mencatat 5,26 juta perjalanan ke luar negeri atau turun 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia mencatat surplus perjalanan sebesar 3,71 juta.

Aktivitas pariwisata yang meningkat juga tercermin dari kinerja industri perhotelan. Tingkat okupansi hotel pada Januari-Juli 2026 mencapai 49,13 persen, meningkat 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut menjadi salah satu sinyal stabilnya kembali industri akomodasi setelah pada 2025 sempat mengalami penurunan selama beberapa bulan.

“Hal ini penting, karena pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah orang yang melakukan perjalanan. Yang ingin kita dorong adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha, serta manfaat ekonomi di destinasi,” kata Ni Luh.

Event hingga Desa Wisata Diperkuat

Selain menjaga indikator makro pariwisata, Kementerian Pariwisata terus menjalankan berbagai program untuk memperluas dampak sektor tersebut.

Dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata menghadirkan aktivasi digital “Pesona Panjat Pinang” melalui kampanye “Merdeka Berwisata #DiIndonesiaAja”.

Kementerian juga terlibat dalam “Pesta Rakyat” yang diperkirakan menarik sekitar 600 ribu pengunjung dan menghasilkan tambahan output nasional sekitar Rp748,25 miliar.

Pada “Karnaval Kemerdekaan” di kawasan Monas, kementerian mengangkat tema Rumah Gadang sebagai representasi pariwisata Sumatra Barat, dengan Puteri Indonesia turut menjadi bagian dari promosi pariwisata.

Program kolaboratif lainnya adalah “S’RASA (Rasa Rempah Indonesia)”, yang melibatkan enam kementerian dan lembaga untuk memperkuat ekspor rempah sekaligus membangun citra Indonesia melalui gastrodiplomasi.

Selama satu tahun pelaksanaan, business matching dalam Trade Expo Indonesia telah menghasilkan kesepakatan pembukaan restoran Indonesia di Australia, Belanda, Italia, dan Malaysia. Pemerintah juga terus memperkuat ekosistem restoran Indonesia di luar negeri melalui fasilitasi pembiayaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Di sektor event, pemerintah mulai menyiapkan Karisma Event Nusantara (KEN) 2027 dengan target dukungan terhadap 125 event. Sosialisasi kurasi telah dilakukan sejak Agustus agar pemerintah daerah memiliki waktu mempersiapkan penyelenggaraan terbaik.

“Event bukan sekadar menghadirkan keramaian, tetapi mampu memperkuat identitas destinasi, menarik kunjungan wisatawan, melibatkan UMKM dan pekerja seni, serta menghasilkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tutur Ni Luh.

Kementerian Pariwisata juga mendukung event internasional, termasuk konser “Andrea Bocelli: Romanza 30th Anniversary World Tour” yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Dua penyelenggaraan tersebut diperkirakan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi sekitar 44 juta dolar AS atau sekitar Rp792 miliar.

“Ini menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan destinasi Indonesia kepada audiens internasional,” kata Widiyanti.

Sementara itu, pengembangan desa wisata terus menjadi bagian penting dari strategi pemerataan manfaat pariwisata. Hingga 1 September 2026, Indonesia tercatat memiliki 6.400 desa wisata.

Pada Agustus, Kementerian Pariwisata bersama Bank Indonesia menggelar Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim yang diikuti 25 desa wisata dari lima provinsi.

Kementerian juga mendukung Karya Kreatif Indonesia 2026 dengan menghadirkan enam desa wisata unggulan melalui tema “Area Jelajah Pesona Nusantara” yang sekaligus membuka akses pemesanan paket wisata.

Promosi Menyasar Transaksi Nyata

Penguatan promosi menjadi strategi lain untuk menjaga pertumbuhan pariwisata. Sepanjang Agustus 2026, promosi dilakukan melalui pameran wisata, sales mission, dan business networking, antara lain Sales Mission Australia, BBWI Travel Fair Merdeka Berwisata, Sales Mission Edutrip School Gathering, serta Luxury Business Networking.

Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan potensi perjalanan sebanyak 16.877 orang.

Segmentasi pasar juga semakin diperjelas, mencakup wisata edukasi, marine tourism, wellness, gastronomi, pasar domestik hingga wisatawan premium.

Dengan pendekatan tersebut, promosi pariwisata tidak lagi hanya diarahkan untuk membangun awareness, tetapi juga menghasilkan perjalanan dan transaksi konkret bagi industri.

Keselamatan Menjadi Fondasi Pariwisata Berkualitas

Di tengah pertumbuhan sektor pariwisata, pemerintah juga menaruh perhatian pada aspek keselamatan.

Kementerian Pariwisata memperkuat Program Peningkatan Keselamatan Berwisata melalui Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari yang dilaksanakan sebagai bagian dari tugas pembantuan bersama pemerintah daerah.

Program tersebut dilaksanakan di delapan provinsi dengan melibatkan pengelola destinasi, kelompok sadar wisata, pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata, masyarakat pesisir, serta pemangku kepentingan lainnya.

Materi pelatihan mencakup identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan dasar, hingga simulasi kondisi darurat.

“Bagi kami, keselamatan bukan sekadar pelengkap. Keselamatan adalah fondasi dari pariwisata yang berkualitas,” ujar Ni Luh.

Pemulihan Destinasi Jadi Prioritas

Pertumbuhan sektor pariwisata sepanjang 2026 tidak terlepas dari sejumlah tantangan di dalam negeri, terutama bencana alam yang berdampak terhadap destinasi dan masyarakat.

“Karena itu, keselamatan wisawatan, kejelasan informasi, dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami,” kata Ni Luh.

Salah satu tantangan terjadi akibat kebakaran hutan di kawasan Bromo-Tengger-Semeru yang sempat menyebabkan aktivitas wisata ditutup. Kementerian Pariwisata berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan dan memastikan wisatawan memperoleh informasi terkait kondisi destinasi, termasuk mekanisme refund dan rescheduling selama penutupan.

Setelah penanganan dilakukan, kawasan wisata Bromo kembali dibuka.

“Bagi kami, pembukaan kembali destinasi harus selalu mempertimbangkan kesiapan kawasan dan keselamatan wisatawan. Ke depan, koordinasi lintas kementerian dan pengelola destinasi perlu terus diperkuat, termasuk mitigasi kebakaran dan pengelolaan risiko pada musim kering,” ujar Ni Luh.

Pemulihan juga menjadi perhatian di Labuan Bajo dan wilayah Flores setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo berdampak terhadap sejumlah destinasi dan fasilitas pariwisata.

Sejumlah destinasi sempat ditutup, sementara daya tarik wisata, akomodasi, aksesibilitas, serta desa wisata mengalami kerusakan. Beberapa event juga harus ditunda atau dibatalkan.

Kementerian Pariwisata kemudian berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, asosiasi, dan pelaku industri untuk memastikan proses pemulihan berjalan terarah.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo telah berjalan dan dapat menerima wisatawan secara normal. Arus kunjungan juga relatif terjaga setelah gempa.

Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar turut kembali dibuka setelah sebelumnya mengalami penutupan sementara demi keselamatan wisatawan. Sejumlah atraksi wisata darat lainnya tetap beroperasi.

Pemerintah menekankan pentingnya penyampaian informasi yang akurat agar kondisi di satu wilayah tidak menimbulkan persepsi bahwa seluruh kawasan Flores terdampak dengan tingkat yang sama.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kebakaran yang melanda Desa Adat Sade juga menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data per 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian mengalami kerusakan total, 20 hunian lainnya terdampak di luar Dusun Sade, serta 11 tempat pertemuan dan fasilitas pendukung mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.

Untuk penanganan jangka pendek, Kementerian Pariwisata memastikan dukungan kebutuhan dasar masyarakat melalui bantuan makanan dan logistik, dapur umum, trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan kelompok sadar wisata.

Sementara untuk jangka panjang, pemerintah mendorong rencana aksi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat untuk menyusun Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade, menghimpun dukungan rekonstruksi melalui satu pintu, dan membangun rumah layak huni.

“Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak,” kata Menpar.

Dalam koordinasi tersebut, pemerintah juga membahas pengembangan Lombok-Gili Tramena dengan arah pembangunan pariwisata yang lebih berkualitas dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Bencana vulkanologi tersebut menyebabkan pembatalan 4.132 penerbangan dan berdampak terhadap sekitar 450 ribu penumpang.

Menpar mengimbau online travel agent (OTA) dan biro perjalanan menerapkan kondisi force majeure sehingga biaya tiket dapat dikembalikan 100 persen serta proses reschedule dapat dilakukan tanpa biaya tambahan.

“Bencana dan musibah yang terjadi ini, mengingatkan kita bahwa, ketahanan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata Indonesia. Bagi kami, prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” tutur Menpar.

Pemerintah menilai sederet capaian tersebut perlu dijaga melalui kerja sama seluruh ekosistem pariwisata. Perjalanan sektor pariwisata pada 2026 masih panjang, sehingga tantangan berikutnya adalah mempertahankan pertumbuhan wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi.

“Melihat capaian yang telah kita bangun bersama, harapan itu tetap ada. Dengan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, industri, komunitas, masyarakat dan seluruh ekosistem pariwisata. Saya percaya kita dapat menjaga momentum ini hingga akhir tahun. Mari terus bekerja bersama untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat Indonesia,” tutur Menpar.