INDUSTRY.co.id - Jakarta - Hujan dapat mengubah situasi berkendara dalam hitungan detik. Jalan yang semula mudah dibaca menjadi lebih sulit dipantau ketika air membasahi kaca depan. Di tengah kondisi tersebut, kemampuan pengemudi untuk melihat dengan jelas menjadi salah satu penentu dalam mengambil keputusan.
Persoalannya, visibilitas kerap menjadi bagian yang luput dari perhatian ketika masyarakat berbicara mengenai keselamatan berkendara. Padahal, kaca depan yang bersih serta wiper dan sistem washer yang bekerja dengan baik merupakan bagian dari kesiapan kendaraan sebelum digunakan.
Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, sementara jutaan lainnya mengalami cedera.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat bergantung pada satu faktor saja. Kesiapan pengemudi, kondisi kendaraan, infrastruktur, hingga lingkungan perjalanan harus saling mendukung.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI Heri Prabowo, menegaskan bahwa budaya keselamatan perlu dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan. Hal itu disampaikan dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi teknologi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal: kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung. Ketiganya membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, dan pengguna jalan sebagai kuncinya.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelas Heri.
Di balik kemudi, sebagian besar informasi yang digunakan pengemudi untuk menentukan tindakan berasal dari apa yang terlihat di hadapannya. Karena itu, gangguan kecil pada pandangan dapat berdampak pada kemampuan merespons situasi.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan visibilitas merupakan bagian penting dalam proses pengambilan keputusan saat berkendara.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.
Menurut Yannes, hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen, sementara kaca yang kotor dapat menurunkan efektivitas kontrol visual pengemudi. Ketika air, kabut, atau sisa sapuan wiper membuat kontras pandangan menurun, objek di jalan berpotensi terdeteksi lebih lambat. Kondisi itu pada akhirnya dapat mengurangi waktu yang tersedia bagi pengemudi untuk mengenali risiko dan menentukan respons.
Karena itu, menjaga kaca depan tetap bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan. Hal tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan pengemudi memperoleh informasi visual selama perjalanan.
Teknologi yang Berangkat dari Kebutuhan Manusia
Kesadaran terhadap pentingnya visibilitas juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Bosch di industri otomotif. Pada 2026, Bosch menandai 100 tahun teknologi wiper, sebuah perjalanan yang menunjukkan bagaimana kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong perkembangan teknologi.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan inovasi seharusnya tidak berhenti pada penciptaan teknologi baru, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi manusia.
“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia,” ujar Pirmin.
Menurut dia, dalam konteks mobilitas, teknologi harus mampu membantu menciptakan perjalanan yang lebih aman sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi.
Selama satu abad, kebutuhan pengemudi memang berkembang mengikuti perubahan kendaraan dan teknologi. Namun, kebutuhan terhadap teknologi yang dapat diandalkan untuk mendukung keselamatan tetap menjadi hal yang sama.
Menjaga visibilitas tidak selalu membutuhkan langkah besar. Salah satunya dapat dimulai dengan memperhatikan kondisi wiper. Penurunan performa wiper biasanya berlangsung secara bertahap sehingga sering kali tidak disadari. Bekas sapuan air yang masih tertinggal, suara berdecit, gerakan yang tidak mulus, atau bagian kaca yang tidak tersapu secara merata dapat menjadi tanda bahwa wiper mulai kehilangan performanya.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan pemeriksaan wiper sebaiknya dilakukan secara berkala dan tidak menunggu sampai komponen tersebut benar-benar berhenti berfungsi.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujar Griselda.
Menurut Griselda, performa wiper tidak hanya ditentukan oleh kondisi karetnya. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang tepat, serta keaslian produk juga berpengaruh terhadap kemampuannya bekerja secara optimal. Karena itu, konsumen perlu memperhatikan spesifikasi kendaraan dan memilih produk melalui kanal yang terpercaya.
Hal serupa disampaikan President Director PT Berkat Otopart Indonesia, Yoke Pribadi. Sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan konsumen, distributor dinilai memiliki peran penting dalam memastikan informasi mengenai kesesuaian dan keaslian produk tersampaikan dengan baik.
Pada akhirnya, menjaga visibilitas bukan sekadar perkara mengganti satu komponen kendaraan. Kebiasaan memeriksa kondisi wiper menjadi bagian dari kesiapan yang lebih besar sebelum seseorang memulai perjalanan.
Semangat tersebut turut diterjemahkan Bosch melalui inisiatif Care for Sight. Dalam momentum 100 tahun teknologi wiper Bosch, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) menghadirkan kontribusi berupa wiper untuk mendukung kendaraan ambulans.
Kontribusi tersebut ditujukan untuk membantu menjaga kesiapan kendaraan yang memiliki peran penting dalam situasi darurat.
“Kontribusi tersebut bukan dimaksudkan sebagai solusi tunggal bagi seluruh kebutuhan kendaraan darurat, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas,” jelas Griselda.
Keselamatan berkendara pada akhirnya tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Memastikan pandangan tetap jelas, memeriksa komponen kendaraan secara berkala, dan tidak mengabaikan tanda-tanda kecil kerusakan merupakan langkah sederhana yang dapat memberi arti besar ketika seseorang berada di jalan.
Melalui inovasi dan edukasi, industri memiliki peran untuk mendorong kebiasaan tersebut. Namun, keputusan untuk memastikan kendaraan siap digunakan tetap berada di tangan setiap pengemudi, sebelum perjalanan dimulai.