INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kementerian Perindustrian mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri melalui program SMK Go Global. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan mencetak lulusan vokasi yang kompeten, bersertifikat, dan siap bersaing di pasar kerja internasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pendidikan vokasi adalah kunci daya saing industri nasional.
“Pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan. Dengan SDM yang kompeten dan unggul, industri kita akan tumbuh lebih produktif, tangguh, dan berdaya saing global,” ujar Menperin di Jakarta, dikutip Minggu (6/9).
Menurut Agus, transformasi industri berjalan cepat. Kebutuhan tenaga kerja teknis pun berubah. Karena itu, penguatan kompetensi menjadi syarat agar industri dalam negeri tidak tertinggal dan mampu menembus pasar global.
Sebagai langkah nyata, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin menggandeng Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Kolaborasi ini memadukan penguatan hard skills dengan akses penempatan kerja ke luar negeri secara legal dan aman.
“Sinergi ini sangat ideal dan saling melengkapi. Kemenperin menyiapkan kompetensi teknis, sementara KP2MI membuka akses pasar kerja dan memberi pelindungan bagi para pahlawan devisa,” kata Plt. Kepala BPSDMI Emmy Suryandari saat Kick Off SMK Go Global.
Program ini menyasar lulusan SMK dan masyarakat umum. Ekosistemnya lengkap, mulai dari pemetaan kebutuhan tenaga kerja, pelatihan, sertifikasi kompetensi, job matching, hingga penempatan. Tujuannya agar peserta bekerja secara prosedural, kompeten, dan terlindungi.
Sejumlah negara tujuan sudah dipetakan, antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, kawasan Eropa, Turki, Taiwan, dan Maladewa. Pemetaan ini memastikan materi pelatihan sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Menteri P2MI Mukhtarudin menyebut SMK Go Global sebagai bentuk pelindungan dari hulu. Peserta dibekali kompetensi, bahasa, dan sertifikasi sesuai standar internasional.
“Pemerintah tetap memprioritaskan lapangan kerja di dalam negeri. Tapi bagi yang ingin ke luar negeri, kita siapkan jalur resmi, aman, dan terlindungi,” ujarnya.
Kemenperin saat ini mengelola 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK dengan sistem link and match ala Swiss. Sistem ini menghubungkan pendidikan langsung dengan kebutuhan industri, agar lulusan siap kerja dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.