INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Industri halal Indonesia mulai bergerak melampaui sekadar pemenuhan kewajiban sertifikasi. Besarnya basis konsumen domestik dan terbukanya pasar halal global membuat ekosistem halal dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang semakin luas, mulai dari makanan, fesyen, gaya hidup, pendidikan hingga keuangan syariah.

Potensi tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Pekan Halal Indonesia (PHI) 2026 In Conjunction with EduNation Festival yang resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (28/8). Gelaran perdana yang berlangsung hingga Minggu (30/8) ini mempertemukan pelaku usaha, institusi pendidikan, komunitas dan masyarakat dalam satu ekosistem.

Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, Vibiadhi Swasti Pradana, mengatakan PHI dirancang bukan semata sebagai ajang transaksi produk halal, melainkan sebagai ruang untuk memperluas interaksi dan kolaborasi antaraktor industri.

“Pekan Halal Indonesia kami hadirkan sebagai platform yang mempertemukan pelaku usaha, institusi pendidikan, komunitas, dan masyarakat. Industri halal hari ini tidak lagi hanya berbicara mengenai produk, tetapi juga telah berkembang menjadi ekosistem yang mencakup halal living, lifestyle, fashion, pendidikan, hingga inovasi keuangan,” ujar Vibiadhi.

Menurut dia, perluasan cakupan industri halal membuat pendekatan terhadap pasar juga tidak bisa lagi hanya bertumpu pada penjualan produk. Edukasi dan pengalaman konsumen menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem yang lebih besar.

“Melalui penyelenggaraan ini, kami ingin masyarakat dapat menemukan berbagai produk dan layanan, memperoleh wawasan baru, sekaligus merasakan secara langsung bagaimana ekosistem halal berkembang dan hadir dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Dari sisi regulasi, pemerintah melihat sertifikasi halal dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha, bukan sekadar kewajiban administratif. Tenaga Ahli Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Bidang Komunikasi dan Kehumasan, M. Fariza Y. Irwady, mengatakan besarnya pasar domestik menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di industri halal global.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang telah menembus lebih dari 290 juta jiwa dan mayoritas beragama Islam, basis pasar halal nasional terbilang besar. Pada saat yang sama, minat sejumlah negara terhadap industri halal Indonesia juga terus berkembang.

Fariza menyebut BPJPH hingga saat ini telah menerbitkan sekitar 31.000 sertifikasi halal. Menurutnya, peluang pasar tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari meningkatnya perhatian negara seperti Korea Selatan, China dan Thailand terhadap industri halal.

“Potensi ekosistem halal di Indonesia sangat besar. Karena itu, sertifikasi halal jangan hanya dilihat sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai potensi untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Fariza.

Dengan demikian, tantangan industri halal Indonesia bukan lagi sekadar memperbanyak produk yang tersertifikasi. Pelaku usaha dituntut mampu mengubah sertifikasi menjadi keunggulan bisnis, baik untuk memperkuat penetrasi pasar domestik maupun membuka akses ekspor.

Kolaborasi PHI dengan EduNation Festival turut memperlihatkan bahwa pasar halal mulai bersinggungan erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Perwakilan KOPIN, Ustadz Abdurrahman, mengatakan pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki karakter dan wawasan global.

“Halal bukan hanya mengenai aturan agama, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk memahami makna halal sekaligus memiliki wawasan global,” ujarnya.

Melalui EduNation Festival, penyelenggara membawa tiga nilai utama bagi generasi muda, yakni wawasan global, karakter keislaman dan karakter halal. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa halal semakin ditempatkan sebagai bagian dari gaya hidup dan pembentukan perilaku, bukan hanya label pada produk.

Sementara itu, hingga dua hari terakhir penyelenggaraan, pengunjung PHI 2026 masih dapat mengakses berbagai booth exhibitor, berdialog dengan pelaku industri, komunitas dan institusi pendidikan, serta mengikuti sejumlah talkshow dan diskusi.

Topik yang diangkat mencakup ekonomi syariah, bisnis, keuangan syariah, cryptocurrency, pendidikan hingga perkembangan halal lifestyle. Keterlibatan komunitas, termasuk komunitas otomotif dan bikers, juga memperluas segmentasi pengunjung dan memperlihatkan bahwa ekosistem halal mulai bersentuhan dengan berbagai kelompok masyarakat.

PHI 2026 didukung sejumlah mitra lintas sektor, antara lain Halal Kulture, Glamlocal dan Deatextile sebagai event partner, iFortepay sebagai Official Payment Gateway serta Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai Supporting Partner.

Penyelenggara berharap perpaduan antara pameran, edukasi, komunitas dan lifestyle tersebut dapat mendorong masyarakat melihat industri halal sebagai ekosistem ekonomi yang memiliki potensi nilai tambah besar. Dengan basis pasar domestik yang kuat dan peluang global yang terus terbuka, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekosistem halal mampu diterjemahkan menjadi peluang bisnis yang lebih konkret bagi pelaku usaha Indonesia.