INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah bergerak terkoreksi pada perdagangan Jumat (28/8/2026) pagi, tertekan oleh menguatnya sinyal pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, tekanan tersebut berpotensi bersifat sementara karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina masih menjadi penopang bagi harga minyak.
Sinyal positif mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut datang dari Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada Kamis (27/8) mengatakan pihaknya tengah menyusun sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz sesuai permintaan Qatar, termasuk persyaratan untuk mengakhiri perang regional.
Meski demikian, Rezaei menegaskan pembukaan jalur tersebut tidak akan dilakukan tanpa adanya langkah nyata dari Amerika Serikat untuk memenuhi tuntutan Iran. Artinya, normalisasi lalu lintas kapal di salah satu jalur energi paling strategis dunia tersebut masih bergantung pada perkembangan negosiasi dan kebijakan Washington terhadap Teheran.
Pergerakan kapal di Selat Hormuz juga mulai memberikan indikasi pemulihan. Data Kpler yang dirilis Kamis menunjukkan sebanyak 10 kapal terpantau melintasi Selat Hormuz pada Rabu, meningkat dari delapan kapal pada Selasa.
Jumlah tersebut memang masih berada di bawah rata-rata pergerakan 10 hari yang mencapai sekitar 15 kapal. Namun, kenaikan lalu lintas kapal menjadi sinyal awal bahwa tekanan terhadap jalur distribusi minyak global mulai mereda.
Di sisi lain, pasar masih menghadapi risiko dari kebijakan AS terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan Washington tidak sedang berdialog dengan Iran karena saat ini fokus menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Teheran. Trump juga memperingatkan akan menghukum negara-negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan tekanan tersebut akan terus dilakukan. Menurut dia, kampanye ekonomi AS terhadap Iran akan berlanjut hingga Teheran memutuskan untuk melakukan negosiasi yang bermakna.
Sikap keras Washington tersebut membuat risiko pasokan minyak kembali menjadi perhatian pasar. Jika tekanan ekonomi berkembang menjadi eskalasi konflik atau menghambat arus perdagangan energi, premi risiko geopolitik berpotensi kembali masuk ke harga minyak.
Ancaman lain datang dari kawasan Eropa Timur. Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Ukraina. Pejabat Ukraina menyebut serangan terbaru tersebut menyasar pelabuhan, kawasan industri, hingga fasilitas distribusi ritel di Kyiv.
Meluasnya sasaran serangan Rusia memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan infrastruktur dan distribusi energi di kawasan tersebut. Kondisi ini menjadi faktor tambahan yang dapat membatasi penurunan harga minyak, terutama jika eskalasi konflik berdampak terhadap pasokan dan jalur perdagangan energi global.
Dengan demikian, pasar minyak saat ini berada di antara dua sentimen yang berlawanan. Di satu sisi, meningkatnya aktivitas kapal di Selat Hormuz membuka peluang normalisasi pasokan dan menekan harga. Di sisi lain, sikap keras AS terhadap Iran serta meningkatnya eskalasi konflik Rusia-Ukraina menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Secara teknikal, harga minyak berpotensi menguji resistance terdekat di level US$86 per barel. Jika katalis negatif mendominasi pasar, harga minyak berpeluang kembali terkoreksi menuju support di sekitar US$81 per barel.
Pergerakan harga dalam jangka pendek karenanya masih sangat bergantung pada perkembangan Selat Hormuz dan arah kebijakan AS terhadap Iran. Setiap indikasi pembukaan jalur secara penuh dapat memperbesar tekanan bearish, sementara kegagalan negosiasi atau eskalasi konflik berpotensi dengan cepat mengembalikan harga minyak ke tren bullish.