industry.co.id - SCG kembali menekankan komitmen perusahaan terhadap penguatan produk semen rendah karbon dan material bangunan yang sirkular dan hijau di Indonesia. Hal ini disampaikan dalam rangka kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia, di mana Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bersama Thai Chamber of Commerce Indonesia (TCCI) mengadakan Indonesia–Thailand Business Forum di Fairmont Hotel, Jakarta.
Forum yang mengangkat tema "Advancing the Indonesia–Thailand Strategic Partnership: Building Integrated Value Chains in Industry, Services, and the Halal Economy" ini menjadi wadah bagi pemerintah, pemimpin perusahaan, asosiasi bisnis, serta swasta dari kedua negara untuk mengidentifikasi peluang dalam perdagangan bilateral, investasi, dan kerja sama industri.
Empat Bidang Kerja Sama Bilateral
Perdana Menteri Thailand menyoroti perluasan kerja sama ekonomi Thailand dan Indonesia di empat sektor bisnis utama. Anutin menekankan empat bidang kerja sama bilateral yang meliputi ketahanan pangan dan pengembangan industri halal, peningkatan konektivitas melalui frekuensi penerbangan bilateral, ketahanan energi termasuk investasi dalam energi bersih, serta pengembangan layanan keuangan untuk mendukung ekonomi digital kedua negara.
Dalam kesempatan ini, SCG hadir dalam sesi panel bertajuk "Building Integrated Industrial Value Chains: From Resources to Downstreaming Advanced Manufacturing" untuk berdiskusi bersama pemimpin perusahaan dari berbagai industri. Diskusi ini membahas bagaimana sumber daya alam Indonesia, pasar domestik yang besar, serta strategi industrialisasi hilir dapat diintegrasikan dengan kekuatan Thailand di sektor manufaktur, otomotif, elektronik, food processing, dan jaringan distribusi regional.
Strategi SCG untuk Produk Hijau
Diwakili oleh Anawat Pornpunyapat, President Director PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, SCG membagikan best practice dalam mendukung pengembangan distribusi produk semen rendah karbon, material sirkular, dan solusi konstruksi hijau di Indonesia, terutama dalam sektor industri dan proyek infrastruktur.
Untuk memperkuat penetrasi produk bangunan hijau di Indonesia, SCG melakukan tiga strategi utama. Pertama, meningkatkan pemahaman dan kepercayaan konsumen terhadap produk hijau. Kedua, mempertahankan strategi pasar dan distribusi yang efektif. Ketiga, efisiensi biaya di tingkat produksi untuk menjaga daya saing harga.
"Kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan solusi konstruksi ramah lingkungan sambil terus meningkatkan efisiensi manufaktur, inovasi produk ramah lingkungan, dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk berkontribusi pada transisi Indonesia menuju infrastruktur rendah karbon," ungkap Anawat.
Tantangan Adopsi Produk Ramah Lingkungan
Adopsi produk konstruksi ramah lingkungan masih sering terkendala oleh rendahnya kesadaran serta pemahaman teknis di kalangan pelaku industri. Oleh karena itu, SCG menghadirkan produk bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki kekuatan, daya tahan, dan keandalan yang setara dengan produk konstruksi konvensional.
Melalui produk low-carbon cement, SCG memanfaatkan material inovatif yang meningkatkan daya tahan jangka panjang serta ketahanan terhadap paparan bahan kimia. Perusahaan juga secara aktif memberikan edukasi produk dan membangun dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kinerja dan keandalan produk konstruksi rendah karbon.
Perluasan Jaringan Distribusi
Untuk memperkuat ketersediaan solusi konstruksi ramah lingkungan, SCG terus memperluas jaringan distribusinya guna memastikan pasokan produk yang konsisten di seluruh wilayah prioritas. Selain itu, perusahaan juga memperluas portofolio Smart Value, High Value-Added (HVA), dan produk ramah lingkungan guna menjawab pertumbuhan pasar konstruksi berkelanjutan yang semakin pesat.
Selama lebih dari30tahun beroperasi di Indonesia, SCG telah membangun berbagai kemitraan strategis dengan mitra lokal melalui berbagi teknologi dan pengetahuan, peningkatan kapabilitas manufaktur sirkular, serta pengembangan kolaborasi yang inklusif. Dengan pengalaman lebih dari113tahun dalam inovasi konstruksi, SCG berkomitmen untuk berbagi inovasi konstruksi rendah karbon di Indonesia.
Teknologi RDF dan Kolaborasi PPPP
Selain pengembangan semen rendah karbon, SCG juga berinvestasi dalam teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Kabupaten Sukabumi. Teknologi ini bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat untuk mengolah municipal solid waste menjadi bahan bakar alternatif, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dalam mewujudkan kolaborasi yang berkelanjutan, SCG mengusung Public-Private-People Partnership (PPPP), sebuah model kolaborasi yang memperluas konsep Kemitraan Publik-Swasta tradisional dengan melibatkan masyarakat sebagai pemangku kepentingan aktif. Kolaborasi inklusif ini memainkan peran penting dalam mempercepat pertukaran pengetahuan, mendorong inovasi, serta mendukung implementasi solusi secara praktis.
"Kami akan terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait di seluruh Indonesia untuk memajukan teknologi, memperkuat kemampuan lokal, dan berkontribusi pada pengembangan material konstruksi rendah karbon sesuai dengan peraturan dan standar industri yang berlaku," tutup Anawat.