INDUSTRY.co.id - Jakarta – Industri semen nasional mencatatkan kinerja positif pada semester I-2026 dengan pertumbuhan penjualan domestik sebesar 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski demikian, Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) mengingatkan bahwa persoalan kelebihan kapasitas (oversupply) masih menjadi tantangan utama yang membayangi keberlanjutan industri.
Data ASPERSSI menunjukkan penjualan semen domestik sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai sekitar 30,71 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 27,78 juta ton. Pertumbuhan terjadi baik pada segmen semen kantong yang naik sekitar 10,3%, maupun semen curah yang tumbuh 11,1%.
Ketua ASPERSSI, Lilik Unggul Raharjo, mengatakan kenaikan tersebut menjadi sinyal membaiknya permintaan pasar. Namun, menurutnya, angka pertumbuhan perlu dibaca secara hati-hati karena sebagian dipengaruhi oleh low-base effect pada semester I-2025.
"Jika dibandingkan dengan semester I-2024, pertumbuhan penjualan hanya sekitar 7,8%, sementara dibandingkan semester I-2022 kenaikannya sekitar 4,2%. Artinya, pertumbuhan yang terjadi saat ini positif, tetapi belum sepenuhnya menunjukkan pemulihan permintaan yang kuat secara struktural," ujar Lilik dalam keterangannya.
Menurut ASPERSSI, peningkatan permintaan semen pada paruh pertama 2026 terutama ditopang percepatan belanja pemerintah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan di berbagai daerah, serta mulai pulihnya aktivitas konstruksi. Namun, sektor properti dan daya beli masyarakat dinilai masih menjadi faktor yang perlu terus dipantau.
Di balik kenaikan penjualan, industri semen nasional masih menghadapi masalah klasik berupa kelebihan kapasitas produksi.
ASPERSSI mencatat kapasitas produksi semen nasional saat ini mencapai sekitar 120 juta ton per tahun, sementara tingkat utilisasi pabrik pada 2025 diperkirakan hanya berada di kisaran 54%.
Meski permintaan diproyeksikan meningkat sepanjang 2026, utilisasi industri diperkirakan hanya naik menjadi sekitar 56%, masih jauh dari tingkat ideal.
"Pertumbuhan penjualan pada semester I belum cukup untuk mengubah fundamental industri. Utilisasi masih jauh di bawah tingkat yang lebih sehat secara ekonomi, yakni sekitar 80% hingga 85%," kata Lilik.
Memasuki paruh kedua tahun ini, ASPERSSI memperkirakan permintaan semen masih akan tumbuh, meski lajunya tidak setinggi semester pertama.
Kinerja industri hingga akhir tahun sangat bergantung pada percepatan realisasi proyek fisik pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Selain proyek infrastruktur, permintaan juga diperkirakan berasal dari pembangunan kawasan industri, sektor pertambangan, proyek perumahan, revitalisasi fasilitas publik, hingga aktivitas renovasi masyarakat.
Untuk segmen semen curah, permintaan diprediksi masih ditopang proyek-proyek konstruksi berskala besar. Sementara semen kantong akan bergantung pada pembangunan rumah tinggal dan proyek skala kecil-menengah, dengan syarat daya beli masyarakat tetap terjaga.
Selain persoalan kelebihan kapasitas, industri semen juga menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya produksi, terutama energi, batu bara, listrik, distribusi, dan logistik.
Di tengah persaingan harga yang semakin ketat, produsen dinilai semakin sulit menaikkan harga jual karena kapasitas produksi jauh lebih besar dibandingkan permintaan pasar.
ASPERSSI menilai tantangan industri saat ini bukan hanya meningkatkan volume penjualan, tetapi juga menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan kemampuan berinvestasi di tengah rendahnya utilisasi pabrik.
Untuk menciptakan industri yang lebih sehat, ASPERSSI meminta pemerintah menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah mempertahankan kebijakan pengendalian pembangunan pabrik semen terintegrasi baru, khususnya di wilayah yang telah mengalami kelebihan pasokan.
Selain itu, asosiasi juga mendorong percepatan realisasi belanja infrastruktur agar mampu menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi industri bahan bangunan.
ASPERSSI turut meminta pemerintah memperluas implementasi green public procurement melalui penggunaan semen rendah karbon pada proyek pemerintah, disertai kepastian pasokan energi dan batu bara dengan harga yang kompetitif.
"Kebijakan transportasi, Zero ODOL, perpajakan, energi, hingga dekarbonisasi juga perlu diterapkan secara terkoordinasi agar tidak menambah beban biaya industri secara bersamaan. Industri semen siap mendukung pembangunan nasional dan agenda dekarbonisasi, tetapi dibutuhkan ekosistem kebijakan yang konsisten agar industri dapat tumbuh sehat, efisien, dan berkelanjutan," tutup Lilik.