INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar yang kerap disalahartikan sebagai hambatan modal. Riset Polytron bersama Populix justru menunjukkan bahwa tantangan UMKM untuk naik kelas lebih banyak berkaitan dengan tata kelola usaha, literasi keuangan, sumber daya manusia, hingga pemilihan aset.

Temuan tersebut dituangkan dalam UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level yang diluncurkan Polytron dan Populix di Surabaya. Handbook ini mengungkap realitas ekosistem UMKM kuliner sekaligus membongkar sejumlah mitos yang selama ini dianggap sebagai resep utama untuk mengembangkan bisnis.

Public Relations Manager Polytron Kenny Meigar mengatakan, banyak UMKM justru terhambat karena mengambil keputusan berdasarkan asumsi, bukan data. “Dalam perjalanannya, banyak UMKM terhambat karena asumsi yang keliru. Handbook ini secara tajam mematahkan 5 mitos utama, disandingkan langsung dengan fakta lapangan,” ungkap Kenny di Jakarta, Jumat (21/8/2026). 

Riset tersebut menunjukkan sekitar 80% pelaku UMKM merupakan kaum perintis. Sebanyak 57% terdorong untuk memiliki usaha karena ingin mandiri, sementara 46% melihat adanya peluang pasar yang menjanjikan. Dari sisi demografi, 65% pelaku UMKM berasal dari Gen Z dan Milenial.

Namun, struktur pendanaan UMKM masih cukup rentan. Sebanyak 63% pelaku usaha mengandalkan tabungan pribadi, sedangkan 46% menggunakan modal yang dikumpulkan secara bertahap dari keuntungan usaha.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan UMKM bukan semata-mata soal seberapa besar modal yang tersedia. Salah satu mitos yang dibongkar adalah anggapan bahwa UMKM harus memiliki banyak cabang untuk bisa disebut berkembang. Padahal, ekspansi tanpa sistem dan prosedur operasional standar (SOP) yang kuat justru dapat menjadi bumerang.

Data Populix dan Polytron menunjukkan 25% pelaku usaha mengalami kesulitan karena sistem dan SOP belum tertata. Bahkan, 48% UMKM masih mencatat transaksi secara manual. Kondisi ini membuat keputusan bisnis lebih banyak bertumpu pada intuisi dan menyulitkan pelaku usaha ketika ingin melakukan ekspansi.

Persoalan literasi juga terlihat dalam akses pembiayaan. Sebanyak 32% responden menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50% merasa kesulitan memperoleh pinjaman bank. Namun, 26% pelaku usaha mengaku tidak memahami cara mengajukan pinjaman, sementara 19% tidak memiliki akses ke lembaga keuangan.

Artinya, akses pembiayaan tidak cukup hanya dibuka dari sisi lembaga keuangan. Pelaku UMKM juga perlu memperkuat kemampuan pencatatan keuangan karena bank menilai kelayakan usaha berdasarkan data tertulis seperti laporan keuangan dan arus kas, bukan semata-mata potensi bisnis.

Di sisi lain, strategi menaikkan harga produk untuk mengejar keuntungan juga dinilai bukan solusi tunggal. Sebanyak 20% konsumen memiliki karakter sensitif terhadap harga, sementara persoalan terbesar UMKM justru berada pada manajemen sumber daya manusia yang mencapai 35%.

Sebanyak 67% UMKM mikro hanya memiliki satu hingga dua karyawan yang harus menjalankan berbagai fungsi. Akibatnya, persoalan kecepatan pelayanan muncul terutama saat jam sibuk, dengan 55% pelaku usaha mengaku menghadapi kendala tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, penambahan karyawan memang dapat meningkatkan kapasitas, tetapi sekaligus menambah beban biaya. Karena itu, Polytron menilai perbaikan SOP dan penggunaan peralatan yang dapat mengurangi pekerjaan manual menjadi alternatif yang lebih realistis.

Riset tersebut juga memperlihatkan bahwa omzet besar tidak otomatis membuat bisnis aman. Biaya tersembunyi akibat kesalahan operasional dapat menggerus keuntungan. Salah satu risiko yang disoroti adalah premature asset death, ketika peralatan rusak dalam waktu sekitar satu tahun akibat penggunaan yang tidak tepat.

Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian berlapis. Pelaku usaha bukan hanya harus menanggung biaya perbaikan atau penggantian alat, tetapi juga berpotensi kehilangan bahan baku serta menghentikan operasional untuk sementara.

Begitu pula dengan anggapan bahwa UMKM harus menggunakan peralatan mahal untuk naik kelas. Saat ini, sekitar 60% UMKM belum memiliki produk elektronik pendukung. Padahal, dari 40% UMKM yang sudah menggunakannya, sebanyak 68% merasakan peningkatan kecepatan pelayanan dan 50% merasakan efisiensi penggunaan bahan baku.

Persoalannya, 42% UMKM masih memilih peralatan berdasarkan harga termurah. Padahal, aspek garansi dan daya tahan juga penting, masing-masing menjadi pertimbangan bagi 27% dan 24% pelaku usaha.

Berdasarkan temuan tersebut, Polytron mendefinisikan kembali konsep UMKM “naik level” melalui empat fondasi, yakni konsep, sistem, aset, dan ekspansi. Pelaku usaha didorong membangun identitas bisnis dan kenyamanan pelanggan, mengurangi proses manual melalui digitalisasi, memilih aset yang dapat digunakan dalam jangka panjang, serta melakukan ekspansi tanpa mengganggu bisnis utama.

Penguatan fondasi tersebut juga menjadi bagian dari program “UMKM Naik Level bareng POLYTRON”. Dalam seri keempat program di Jakarta, pelaku usaha kuliner mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan arus kas yang dibawakan Learning & Development Lead MWX Indonesia Kreshna Manggala.

Kreshna menekankan pentingnya membedakan omzet, profit, dan uang tunai yang tersedia. Pelaku usaha juga perlu menerapkan sistem penggajian bagi pemilik agar keuangan pribadi tidak bercampur dengan kas bisnis. Pengelolaan bahan baku pun perlu dijaga dengan rasio belanja ideal sekitar 30% hingga 35%.

Selain itu, kebocoran biaya dapat muncul dari hal-hal sederhana seperti takaran porsi yang tidak konsisten hingga konsumsi listrik peralatan pendingin yang beroperasi sepanjang hari. Perawatan rutin dan pemeriksaan komponen menjadi salah satu cara untuk menekan biaya tersebut.

Program tersebut turut menghadirkan Co-Founder Pipiltin Cocoa Tissa Aunilla yang membagikan pengalaman membangun merek cokelat lokal berbasis biji kakao Nusantara. Pengalaman Pipiltin menunjukkan bahwa identitas merek, kualitas produk, pemberdayaan petani, dan keberlanjutan dapat menjadi kekuatan untuk membawa produk lokal ke pasar global.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Polytron juga menyediakan dukungan perangkat bagi pelaku UMKM melalui program POLYPRENEUR. Produk seperti chest freezer berkapasitas 100 hingga 300 liter dan showcase berkapasitas 190 hingga 1.000 liter disiapkan untuk membantu pengelolaan bahan baku dan produk.

Polytron juga menawarkan produk pendukung seperti dispenser, oven, dan rice cooker melalui program POLYPRENEUR Exclusive Deal dengan potongan harga hingga 40% untuk produk katalog khusus UMKM. Selain perangkat, pelaku usaha mendapatkan akses kelas edukasi bersama praktisi UMKM, peluang mendapatkan dukungan promosi dari food vlogger, serta kesempatan menjadi tenant dalam berbagai event nasional yang diselenggarakan Polytron.

Melalui program tersebut, Polytron mendorong pelaku UMKM untuk tidak sekadar mengejar pertumbuhan omzet, tetapi membangun bisnis yang memiliki sistem, aset yang tepat, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta strategi ekspansi yang terukur. Dengan pendekatan berbasis data, pertumbuhan UMKM diharapkan tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih sehat dan berkelanjutan.