INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri vape meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka secara transparan data dan metodologi penelitian yang menjadi dasar munculnya klaim bahwa penggunaan vape berkaitan dengan 100% diabetes dan 92% gangguan paru-paru.

Permintaan tersebut disampaikan tiga asosiasi yang mewakili pelaku industri vape, yakni Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Perkumpulan Produsen Eliquid Indonesia (PPEI), dan ARVINDO.

Ketua Umum APVI Budiyanto, Ketua Umum PPEI Daniel Boy Purwanto, dan Ketua Umum ARVINDO Fahmi K. Firmansyah

Ketua Umum APVI, Budiyanto meminta agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh mengenai penelitian tersebut, mulai dari metode, jumlah dan karakteristik sampel, parameter pengujian hingga indikator kesehatan yang digunakan.

"Kami menghormati penelitian, mengakui risiko kesehatan, dan meminta agar informasi kepada masyarakat disampaikan secara lengkap serta batas kesimpulan ilmiahnya," kata Budiyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Dia mengatakan, munculnya angka 100% diabetes dan 92% gangguan paru-paru menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku industri vape.

Menurutnya, asosiasi ingin mengetahui secara rinci bagaimana angka tersebut diperoleh dan apakah istilah yang digunakan dalam pemberitaan benar-benar menunjukkan diagnosis penyakit atau merupakan hasil pengukuran terhadap indikator kesehatan tertentu.

"Kami ingin tahu parameter ujinya seperti apa, sampelnya apa, dan indikator metaboliknya seperti apa. Apakah istilah diabetes yang digunakan dalam pemberitaan benar-benar merujuk pada diagnosis penyakit diabetes atau hanya menunjukkan perubahan indikator metabolik tertentu," ujarnya.

Ia mengatakan sebelumnya juga telah terdapat berbagai kajian mengenai rokok elektronik. Salah satunya penelitian yang dipublikasikan pada 2025 yang membandingkan sejumlah parameter antara rokok elektronik dan rokok konvensional.

Karena itu, menurut Budiyanto, penelitian terbaru perlu ditempatkan dalam konteks penelitian sebelumnya.

"Temuan penelitian terbaru perlu ditempatkan dalam konteks kajian-kajian sebelumnya. Apalagi, klaim mengenai diabetes dan gangguan paru-paru tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Kalau ada bukti baru, kami siap mempelajarinya dan mendukung tindak lanjut yang diperlukan," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PPEI, Daniel Boy Purwanto menegaskan, pelaku industri tidak menutup diri terhadap temuan ilmiah mengenai risiko kesehatan produk vape.

Bahkan, menurutnya, industri siap melakukan evaluasi apabila terdapat bukti ilmiah yang kuat mengenai dampak negatif produk terhadap kesehatan.

"Kita tidak menutup diri kalau misalnya hasilnya ternyata memang negatif, mungkin kita pun bakal berbenah juga untuk produk kita," kata Daniel.

Namun, Daniel mengatakan kepastian hukum menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha.

Berbagai isu yang muncul mengenai vape dinilai dapat memengaruhi persepsi masyarakat sekaligus menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

"Dengan adanya isu-isu seperti ini, kepastian hukum untuk kami teman-teman pengusaha jadi membingungkan," ujarnya.

Penjualan Pelaku Usaha Mulai Tertekan

Dampak pemberitaan mengenai klaim kesehatan tersebut juga mulai dirasakan pelaku usaha vape.

Ketua Umum ARVINDO, Fahmi K. Firmansyah mengatakan, sejumlah pelaku usaha yang tergabung dalam komunitasnya mengalami penurunan omzet setelah isu tersebut beredar.

"Berita yang baru beberapa hari ini saja, enam teman kami sudah langsung mengalami penurunan omzet 21-30 persen," kata Fahmi.

Menurut dia, dampak tersebut tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga pelaku usaha di tingkat bawah yang bergantung pada aktivitas industri vape.

Karena itu, Fahmi meminta pemerintah dan lembaga penelitian mempertimbangkan dampak komunikasi publik terhadap keberlangsungan usaha, tanpa mengesampingkan aspek kesehatan masyarakat.

Minta BRIN Buka Data Penelitian

Ketiga asosiasi berencana mengajukan audiensi kepada BRIN untuk membahas penelitian yang menjadi sumber polemik tersebut.

Mereka berharap forum tersebut dapat mempertemukan peneliti, pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri sehingga perbedaan pemahaman mengenai hasil penelitian dapat diklarifikasi berdasarkan data.

"Kami ingin diajak berdialog, kami ingin sekali berdiskusi dengan pihak BRIN terkait hal ini," ujar Fahmi.

Menurut Fahmi, asosiasi juga siap membawa hasil pengujian dan kajian yang dimiliki industri untuk menjadi bahan pembanding dalam diskusi dengan BRIN.

Ia menekankan asosiasi tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi perdebatan antara industri dan peneliti.

"Kita tidak ingin membantah. Kita ingin berdialog dulu, berbicara dulu. Kita tidak ingin terjadi perdebatan yang menjadikan isu kesehatan sebagai pertentangan," ujarnya.

Asosiasi berharap BRIN dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penelitian yang melahirkan klaim 100% diabetes dan 92% gangguan paru-paru, termasuk metode penelitian, karakteristik sampel, parameter yang diuji, serta makna klinis dari indikator yang digunakan.