INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kembali menggenjot eksplorasi untuk mengejar sumber daya migas baru. Kali ini, kawasan Paleogen menjadi salah satu sasaran utama setelah terbukti menyimpan sistem petroleum yang telah menghasilkan penemuan, cadangan, hingga produksi hidrokarbon di sejumlah cekungan Indonesia.
Dorongan tersebut mengemuka dalam EAGE Workshop on Exploration and Opportunities in the Paleogene Play yang digelar pada 28-29 Juli 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), perusahaan teknologi dan jasa migas, akademisi, serta komunitas geosains untuk membedah peluang eksplorasi Paleogen yang dinilai masih jauh dari kata habis.
Workshop tersebut diikuti 143 delegasi dari 54 organisasi dan perusahaan yang berasal dari 19 negara. Keterlibatan lintas negara dan pelaku industri tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperkuat investor engagement di sektor hulu migas.
Dalam forum tersebut, Kepala Divisi Eksplorasi SKK Migas menyampaikan keynote speech bertajuk "The Future of Paleogene Exploration in Indonesia: Proven Systems, Emerging Opportunities, and New Exploration Thinking". Pesan yang dibawa cukup tegas: Paleogen bukan lagi sekadar frontier berisiko, melainkan sistem petroleum yang telah terbukti menghasilkan hidrokarbon.
Paleogene telah berkontribusi terhadap penemuan, cadangan dan produksi hidrokarbon di berbagai cekungan, mulai dari North Sumatra, Central Sumatra, South Sumatra, Northwest Java, East Java, Kutai, Barito, Andaman hingga kawasan Eastern Indonesia.
"Fokus ke depan tidak lagi pada pembuktian apakah Paleogene dapat menghasilkan hidrokarbon, tetapi pada bagaimana mengidentifikasi dan membuka generasi penemuan berikutnya," demikian arah eksplorasi yang disampaikan SKK Migas dalam forum tersebut.
Jejak keberhasilan eksplorasi Paleogen terlihat dari sejumlah penemuan terbaru. Di Northeast Java, misalnya, sistem petroleum Eocene Ngimbang mencatat penemuan Hidayah-1 pada 2021 dan Barokah-1 pada 2025. Sementara di Central Sumatra, eksplorasi terus dikembangkan pada Pematang Group untuk mengejar potensi minyak dan gas nonkonvensional atau MNK.
Di North Sumatra dan Andaman, keberhasilan pengeboran Timpan-1, Layaran-1 dan Tangkulo-1 juga menunjukkan perubahan cara pandang terhadap Paleogen. Play yang sebelumnya dipandang memiliki risiko tinggi mulai berkembang menjadi prospek signifikan setelah ditopang pemahaman subsurface dan teknologi pencitraan bawah permukaan yang semakin baik.
SKK Migas melihat perkembangan teknologi menjadi salah satu kunci untuk membuka kembali target eksplorasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Kemajuan seismic acquisition and processing, subsurface imaging, basin modelling, advanced analytics hingga teknologi digital, termasuk artificial intelligence dan machine learning (AI/ML), memungkinkan perusahaan mengevaluasi target yang sebelumnya poorly imaged atau sulit diprediksi.
Namun, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti keahlian geologi. "Teknologi dipandang sebagai enabler, bukan pengganti geological judgement," menjadi salah satu prinsip penting dalam strategi eksplorasi Paleogen.
Tantangan eksplorasi juga tidak ringan. Risiko masih membayangi distribusi reservoir, preservasi perangkap atau trap, integritas seal, efisiensi migrasi hidrokarbon hingga kemampuan pencitraan subsurface. Risiko tersebut semakin kompleks pada target yang berada di kedalaman tinggi, wilayah deepwater, maupun area dengan struktur tektonik yang rumit.
Karena itu, pengurangan ketidakpastian menjadi pekerjaan utama sebelum aktivitas pengeboran dilakukan. SKK Migas mendorong peningkatan kualitas data dan integrasi multidisiplin agar keputusan eksplorasi tidak hanya bertumpu pada satu pendekatan geologi maupun teknologi.
Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika industri hulu migas Indonesia menghadapi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mengganti cadangan yang terus diproduksikan. Penemuan baru menjadi kunci agar resource replacement tidak tertinggal dari laju produksi nasional.
Dengan rekam jejak keberhasilan yang sudah terbukti di berbagai basin dan play type, Paleogen kini diposisikan SKK Migas sebagai salah satu frontier strategis untuk jangka panjang. Bukan lagi sekadar mencari pembuktian bahwa sistem petroleum tersebut bekerja, tetapi mengubah pemahaman subsurface, teknologi dan data menjadi penemuan migas generasi berikutnya.
Forum EAGE tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan eksplorasi Indonesia ke depan tidak hanya berada di permukaan. Semakin dalam dan kompleks target yang diburu, semakin besar kebutuhan terhadap teknologi imaging, AI/ML, integrasi data dan keberanian mengambil keputusan berbasis geological judgement. Bagi SKK Migas, kombinasi itulah yang akan menentukan seberapa besar potensi Paleogen dapat dikonversi menjadi cadangan dan produksi migas baru Indonesia.