INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di sela perjalanan menuju Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memilih menghentikan sejenak iring-iringannya. Bukan untuk beristirahat, melainkan berjalan ke pematang sawah dan menyapa para petani serta buruh tani yang tengah bekerja sejak pagi.
Suasana yang semula dipenuhi aktivitas di sawah berubah menjadi hangat.
Mentan Amran larut dalam percakapan ringan bersama para ibu buruh tani. Mulai dari bekal makanan yang mereka bawa dalam bakul, penghasilan harian, hingga persoalan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang selama ini belum mereka rasakan.
"Rasanya tidak lengkap kalau melintas begitu saja tanpa menyapa dan ngobrol langsung dengan petani dan para buruh tani yang sedang berjuang di garis depan pangan kita. Dari obrolan seperti inilah saya tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan," ujar Amran mengutip dari akun Instagram resmi @a.amran_sulaiman.
Percakapan berlangsung santai, diselingi gelak tawa. Saat melihat bekal makanan yang dibawa salah seorang ibu buruh tani, Amran sempat bergurau.
"Mentan Amran: 'Minta satu! Halal ya?'
'Halal, Pak!' jawab para ibu sambil tertawa."
Obrolan kemudian berlanjut mengenai kehidupan para buruh tani.
"Ini digaji atau bagaimana?" tanya Amran.
"Digaji, Pak."
"Per hari dapat berapa?"
"Satu orang cuma Rp50 ribu."
Amran kembali bertanya apakah mereka memiliki sawah sendiri.
"Punya sawah nggak?"
"Ndak. Kalau punya sawah ndak buruh, Pak. Kalau punya sawah semua, nanti ndak ada yang buruh," jawab seorang ibu spontan.
Jawaban polos itu langsung mengundang tawa rombongan, termasuk Amran sendiri.
Percakapan semakin cair ketika Amran bertanya siapa nama bupati setempat. Sang ibu mengaku tidak mengetahuinya karena kesehariannya hanya bekerja di sawah.
"Kalau ditanya bupatinya, orang ndak pernah ke mana-mana. Perginya ke ladang, ya tahunya di ladang aja," ucapnya, kembali disambut tawa.
Ketika para ibu mencoba menebak identitasnya, Amran justru mengaku sebagai petani sekaligus penyuluh.
"Saya juga petani," katanya.

Momen sederhana itu kemudian berubah menjadi pembahasan yang lebih serius. Para buruh tani mengaku belum pernah memperoleh bantuan alsintan karena tidak tergabung dalam kelompok tani.
Mendengar penjelasan tersebut, Amran langsung memberikan instruksi kepada jajarannya.
"Hari ini juga saya minta juknis penyaluran alsintan langsung diubah. Prosedur yang berbelit-belit harus dipangkas agar bantuan benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan. Tidak ada lagi cerita bantuan tertahan atau salah sasaran."
Ia bahkan meminta staf Kementerian Pertanian segera mencatat data penerima dan mengirimkan bantuan traktor.
"Kasih traktornya. Ambil nomor teleponnya. Antarkan hari ini ke rumahnya. Kalau selama ini hanya kelompok yang bisa menerima, mungkin kita ubah juknisnya supaya penggarap juga bisa memperoleh bantuan," tegasnya.
Bagi Amran, persoalan tersebut bukan sekadar administrasi, melainkan menyangkut keadilan bagi petani kecil dan buruh tani yang selama ini belum tersentuh program pemerintah.
"Yang dapat jangan itu lagi, itu lagi. Harus disisir supaya yang belum pernah menerima juga bisa merasakan. Ini masalah sosial yang sangat penting," katanya.
Saat rombongan hendak melanjutkan perjalanan, sejumlah ibu buruh tani lainnya berlari menghampiri. Mereka mengaku sengaja datang hanya untuk bertemu langsung dengan Menteri Pertanian.
"Niatnya mau lihat Pak Menteri," kata salah seorang ibu sambil tersenyum.
Amran pun menghentikan langkahnya, melayani permintaan swafoto bersama, sebelum menutup pertemuan singkat itu dengan yel-yel yang langsung dijawab kompak oleh para petani.
"Petani..."
"Sejahtera!"
"Petani..."
"Sejahtera!"
Di tengah hamparan sawah Semarang, dialog sederhana itu bukan hanya menghadirkan tawa, tetapi juga melahirkan keputusan penting.
Dari percakapan tanpa podium dan tanpa sekat, lahir komitmen untuk memangkas birokrasi penyaluran alsintan agar bantuan lebih cepat, lebih tepat sasaran, dan benar-benar dirasakan oleh petani yang selama ini berada di garis terdepan menjaga ketahanan pangan nasional.