INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pergerakan pasar valuta asing pada perdagangan Rabu (5/8) didominasi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik serta sikap hati-hati investor menjelang serangkaian data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Pasangan EUR/USD terpantau melemah ke kisaran 1,1527 pada sesi Asia. Tekanan terhadap euro dipicu meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai menyusul belum pastinya perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen tersebut menguat setelah Iran membantah klaim pejabat AS terkait pembukaan Selat Hormuz. Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembicaraan yang dimediasi Oman tidak melibatkan Amerika Serikat dan difokuskan pada pembentukan koridor alternatif. Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu dolar AS sehingga membatasi penguatan mata uang berisiko.
Di sisi fundamental, data JOLTS Job Openings AS periode Juni menunjukkan jumlah lowongan kerja turun menjadi 7,359 juta dari 7,537 juta pada bulan sebelumnya. Namun, perhatian pelaku pasar kini beralih ke rilis ADP Employment, ISM Services PMI, dan Nonfarm Payrolls (NFP) akhir pekan ini yang diperkirakan akan menjadi penentu ekspektasi suku bunga The Fed.
"Selama belum muncul katalis baru, EURUSD diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi. Jika data ketenagakerjaan AS lebih lemah dari perkiraan, peluang penguatan euro terhadap dolar AS dapat kembali terbuka," demikian analisis pasar. Secara teknikal, support EUR/USD berada di area 1,1490 dan resistance di 1,1565.
Tekanan serupa juga dialami pound sterling. GBP/USD turun ke sekitar 1,3446 setelah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali menopang penguatan dolar AS. Sementara itu, ekspektasi bahwa Bank of England belum akan kembali memperketat kebijakan moneternya membuat daya tarik pound berkurang.
"GBPUSD diperkirakan bergerak terbatas di sekitar area 1,34 sambil menunggu petunjuk lebih lanjut dari rilis data ekonomi Amerika Serikat," tulis laporan tersebut. Support pasangan ini berada di level 1,3415 dan resistance di 1,3485.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia juga bergerak melemah ke kisaran 0,7043. Selain terdampak menguatnya dolar AS, pelemahan AUD turut dipicu perlambatan aktivitas sektor jasa China setelah PMI Jasa turun menjadi 50,4 pada Juli dari 54,1 pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, harapan terhadap penyelesaian diplomatik konflik AS-Iran masih membatasi penguatan dolar AS sehingga tekanan terhadap AUD belum semakin dalam. Secara teknikal, support AUD/USD berada di level 0,7015 dengan resistance di 0,7075.
Dolar Selandia Baru juga berada di bawah tekanan setelah tingkat pengangguran negara itu pada kuartal II meningkat menjadi 5,6%, tertinggi dalam hampir satu dekade dan melampaui ekspektasi pasar.
"Meskipun pertumbuhan lapangan kerja serta tingkat partisipasi angkatan kerja menunjukkan peningkatan, pasar lebih merespons kenaikan jumlah pengangguran sehingga mendorong pelemahan kiwi," tulis analisis tersebut. Support NZD/USD diperkirakan berada di area 0,5845 dan resistance di 0,5905.
Berbeda dengan mata uang lainnya, yen Jepang justru menguat sehingga mendorong USD/JPY turun ke kisaran 157,63. Penguatan yen dipicu pernyataan Kepala Sekretaris Kabinet Jepang yang menegaskan kebijakan moneter sepenuhnya menjadi kewenangan Bank of Japan (BoJ), sementara pemerintah tetap berkoordinasi dengan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Pasar kini menantikan sinyal lanjutan dari BoJ serta data ekonomi AS yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan USD/JPY. Support berada di level 157,20 dan resistance di 158,10.
Sementara itu, USD/CHF melemah ke kisaran 0,8089 seiring koreksi indeks dolar AS dalam dua hari terakhir akibat berkurangnya permintaan aset safe haven. Namun, pelemahan dolar diperkirakan terbatas karena kenaikan imbal hasil obligasi AS dan pernyataan pejabat Federal Reserve Jeff Schmid yang menilai inflasi masih berada di atas target sehingga kebijakan moneter berpotensi tetap ketat.
Di sisi lain, USD/CAD justru menguat ke sekitar 1,4072 setelah harga minyak mentah WTI turun ke kisaran US$73,80 per barel. Penurunan harga minyak dipicu perkembangan positif diplomasi terkait Selat Hormuz serta meningkatnya stok minyak mentah AS sebesar 2,69 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Juli.
"Kondisi tersebut memperkuat persepsi bahwa pasokan minyak masih memadai sehingga menambah tekanan terhadap harga minyak," demikian laporan tersebut. Untuk jangka pendek, support USD/CAD berada di level 1,4035 dan resistance di 1,4115.