INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pergerakan harga minyak dunia masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (5/8). Sentimen negatif datang dari perkembangan diplomatik terkait Iran yang dinilai membuka peluang meredanya ketegangan geopolitik, di tengah meningkatnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) berdasarkan laporan awal American Petroleum Institute (API).
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani membahas upaya memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran. Dalam pernyataan resmi kantor Emir Qatar, para mediator disebut telah mencatat kemajuan dalam proses pembahasan tersebut sehingga meningkatkan harapan terhadap penyelesaian jangka panjang konflik Iran.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi oleh laporan terbaru API yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 2,69 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Juli. Persediaan bensin juga meningkat sebesar 156.000 barel, yang mengindikasikan permintaan energi di pasar AS masih cenderung lemah.
"Laporan stok API itu mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan laporan stok resmi versi pemerintah yang akan dirilis pada Rabu malam oleh EIA," demikian isi laporan tersebut.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Laut Merah masih menjadi faktor yang berpotensi membatasi pelemahan harga minyak. Menteri Perhubungan Laut India Sarbananda Sonowal melaporkan sebuah kapal komersial, MSV Faize Noore Oliya, tenggelam akibat serangan proyektil di dekat perairan Yaman. Kementerian Perhubungan Yaman menuduh kelompok Houthi berada di balik serangan tersebut.
Pasar juga mencermati perkembangan dari China. Lima sumber industri mengungkapkan pemerintah Tiongkok kembali melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar olahan untuk bulan kedua berturut-turut pada Agustus dengan memberikan izin sementara kepada perusahaan penyulingan untuk mengekspor 2,7 juta metrik ton bahan bakar ke berbagai negara tujuan, di luar Hong Kong dan Makau.
Selain itu, perusahaan penyulingan juga diperbolehkan mengalihkan sebagian kuota ekspor Agustus ke September guna mengakomodasi padatnya jadwal penjualan di pasar spot.
Secara teknikal, harga minyak diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas. "Harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$72 per barel," demikian proyeksi yang disampaikan dalam analisis pasar tersebut.